ANTHEA - PROLOGUE

 

Prologue

 

“Semuanya sudah berakhir, kepingan hati ini tak dapat kureka ulang. Luka ini terasa dalam dan terus saja menganga tanpa bisa kutahan. Aku terjebak dalam masa lalu tanpa seorang pun tahu, atau mungkin aku memang tak punya siapapun untuk diberitahu? Menyedihkan bukan?

Sejenak aku berpikir untuk menghilang saja, menyusul mereka yang lebih dulu pulang. Tapi aku teringat salah satu bait penyair lawas, Jalaludin Rumi; apa pun yang hilang dari dirimu akan kembali dalam wujud lain.

Hingga akhirnya aku menemukan wujud lain itu. Dialah Teressa, dia menarikku untuk memulai kisah dalam lembar yang baru penuh warna. Dan juga, dengan dia aku jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ah tidak! Mungkin untuk pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta”

 

- Samudra Airlangga Sebastian –

 

~o0o~

 

“Aku egois, kekanak-kanakkan dan juga sedikit cerewet. Tidak! Aku sangat cerewet. Aku tak pandai merangkai kata, yang pada intinya aku adalah orang yang sangat to the point. Jika aku menyukainya, aku akan mengatakannya. Jika aku membenci, aku akan menjauh. Namun, bersamanya membuatku kelimpungan. Aku menyukai dan membencinya disaat yang bersamaan. Aku ingin dekat, dan menjauh disaat yang bersamaan pula. Akan tetapi semakin hari rasa ini tak bisa kutentang. Karna perlahan aku menyadari bahwa rasa sukaku, lebih besar dari rasa benciku. Hingga kusimpulkan bahwa aku menyukainya. Ah sial! Aku rasa aku telah mencintainya.

Dan satu hal lagi, tak ada yang lebih indah selain jatuh cinta pada orang yang juga jatuh cinta padamu. Aku menyebutnya sihir. Ini benar-benar luar biasa, dia mengubahku dan membuatku tak bisa berpaling. Aku terjebak dalam relung hatinya”.

 

- Teressa Aulia –

 

Komentar