ANTHEA - 03

 

03. Arti Degupan Jantung

 

Ternyata jantungku berdetak hanya untukmu.

--Teressa—

 

“Loe telpon deh temen loe. Suruh dia bukain pintu, atau kasih tau yang lain kalo kita kejebak disini,” Angga menyerahkan HP Tere yang berada padanya.

Tere hanya diam menatap handphone itu. Ia lalu menatap Angga dengan sorot meminta maaf, “g_gue gak punya temen,” kata Tere canggung.

“Kok bisa?” tanya Angga heran.

“Gue kan murid baru. Jadi belum punya temen,” jawab Tere seolah ada yang ditutupi.

“Terus siapa orang yang bisa loe hubungin?”

Tere diam berpikir, “nyokap gue, bokap gue, adek gue, cowok gue, dan...” Tere memutar bola mata malas sebelum melanjutkan. “Si Samsudin kali,” katanya dengan raut wajah lesu.

Angga berdehem sebentar, kenapa rasanya aneh mendengar Tere mengatakan jika dia sudah punya pacar. Ah, mungkin hanya perasaan Angga saja.

“Siapa si Samsudin?” tanya Angga.

“Bukan siapa-siapa, dan gak usah dibahas,” jawab Tere tegas dengan perubahan raut wajahnya.

“Gak ada yang lain?” Angga kembali bertanya penuh harap.

Tere kembali berpikir, “o iya, kemaren ada banyak cowok yang ngechat gue. Coba gue cek yah, kali aja ada yang bisa bantu,” Tere meraih ponselnya dari Angga dengan semangat. “Yah...yah kenapa nih? Yah... batrenya abis,” ujar Tere kecewa.

Angga menarik nafas berat. Ia beranjak, lalu duduk dan bersandar dikursi panjang yang tersedia di UKS. Ya, ia harus meregangkan otot-ototnya yang mulai pegal dan terasa lelah. Mungkin sekarang ini, lebih baik Angga mengistirahatkan otak dan tubuhnya. Karna entah kenapa seharian ini dia hampir merasa gila.

Hening!

“Sampai kapan kita kekunci disini?” rengek Tere mulai kesal.

“Sampe pintunya kebuka,” jawab Angga datar. Matanya memang terpejam, tapi telinganya masih mendengar jelas.

“Terus kapan pintunya kebuka?!”

“Kalo ada yang bukain pintu,”

“Iiiihhh,” Tere menggeram kesal.

Angga membuka matanya, dan langsung mengarahkan pandangannya pada Tere. Ada hal yang ingin ia tanyakan, “loe tadi kenapa sih?  Kenapa bisa sesak nafas kayak gitu?” tanya Angga mengutarakan rasa penasarannya.

“Oh itu karna... karna... jantung gue lemah. Dan emang suka ngedadak sakit kayak tadi,” jawab Tere sedikit terbata-bata.

“Yakin jantung loe lemah? Kok bisa kuat sih marah-marah mulu,” kata-kata Angga itu terdengar seperti ejekan.

“Ya justru dengan cara gue marah atau pun ngeluarin emosi gue itu bisa ngurangin resiko sakit jantung gue. Soalnya kalo ditahan malah jadi sesak nafas. Tapi itu gak sering kok, sejak gue oprasi keadaan jantung gue udah jauh lebih baik,” terang Tere.

“Terus dahi sama lutut loe kenapa? Gak mungkin kan loe ngejedotin pala loe sendiri,”

“Ya nggaklah,” elak Tere segera. Ia jadi sedikit gugup karna ia tak mau jika Angga mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ya, Tere tak berniat memperpanjang masalah ini. “Gue tadi jatoh, terus gak sengaja kejedot. Jadi kayak gini deh,”

Angga mangut-mangut, “baju loe basah kuyup gitu gak dingin?”

“Dingin sih, tapi mau gimana lagi,”

“Ganti aja pake baju gue,” Angga memberikan paver bag-nya.

“Eh, gak usah,” tolak Tere halus, ia tak mau merepotkan Angga yang sudah banyak menolongnya hari ini.

“Cepet ganti! Penampilan loe itu cuma ngotorin mata gue,” perintah Angga yang tak mau menerima penolakan.

Tere berusaha mencerna kata-kata Angga. Ia lalu melihat bajunya yang memperlihatkan sedikit... dalamannya?

“Iiihhh kok loe mesum sih,” teriak Tere histeris.

Tere mengangkat tangan keudara hendak mencakar wajah Angga yang menjengkelkan itu. Namun Tere mengurungkan niat dan lebih memilih menyilangkan tangan menutupi dadanya.

“Ck, gue harus bilang berapa kali. Kalo gue tuh gak berminat sama cewek dibawah umur kayak loe,” decak Angga kesal.

Tere menyeringai, “loe juga bukan tipe gue kok,” katanya sinis.

“Tipe itu bukan alasan utama jatuh cinta,”

“Bodo!!”

Angga mendelik. “Yodah, cepet nih pake,” Angga yang kembali menyerahkan paver bag-nya.

Tere pun langsung mengambilnya dengan gerakan kilat. Lalu ia berjalan kesisi tirai lain dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

“Awas kalo loe ngintip!!” Tere memperingati dengan tatapan tajam.

“Gak diintip juga udah tau,” sahut Angga sengaja memancing Tere.

 

~o0o~

 

Stella menyaksikan pertunjukan basket dengan gelisah. Pasalnya, dari awal pertunjukan sampai selesai ia tak melihat batang hidung Angga sedikit pun. Tentu saja hal itu membuat Stella uring-uringan. Gadis ini sepertinya memang tergila-gila pada Angga.

“Kemana sih dia, kok gak ada? Gue telpon juga gak aktif lagi,” gerutu Stella kesal.

“Loe cari deh, kali aja ada perlu ditempat lain,” usul Kamila.

“Atau jangan-jangan Angga lagi berduaan lagi sama si anak baru kurang ajar itu,” Khanza memprovokasi.

“Iiihhhh, yaudah kita cari sama-sama,” jengkel Stella.

“Lha kok kita? Kan loe yang pengen ketemu,” protes Kamila.

“Iyah nih Stel, gue lagi PW tau,” timpal Khanza.

Stella mendengus seraya  berdecak kesal. Ia kemudian pergi meninggalkan tribun dan kedua sahabat laknatnya. Ya, siapapun memang pasti akan lelah menuruti keinginan Stella. Masalahnya semua tindak-tanduk Stella tidak akan jauh mengenai Angga. Dan yang meresahkan juga kasihan ialah karna gadis ini tetap tak bisa menembus dinding pertahanan Angga. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh memilukan.

“Halo, loe dimana? Liat Angga gak?” tanya Stella kala panggilannya sudah terhubung pada Sonya.

“Lho Stel bukannya Angga di UKS yah sama loe?!”

“Maksud loe?” tanya Stella mengerutkan dahi.

“Gue kunciin Angga di UKS. Gue kira dia disana sama loe!”

“Apa?!!”

Stella segera menyuruh Sonya untuk menemuinya. Sonya tadi memang tak sengaja melihat Angga yang berlari ke UKS, ia kira Angga menemui Stella disana. Jadi sebagai sahabat yang baik dia mengunci Angga disana agar Stella punya waktu untuk lebih dekat dengan Angga. Sayang, niat baiknya tak berbuah kebaikan.

“Cepet buka!” titah Stella lirih seraya menahan amarah pada Sonya.

“Iya sabar Stel,” sahut Sonya tak kalah lirih. Ia lalu mengeluarkan kunci UKS dan memutarnya perlahan.

Sonya kemudian mengetuk pintu UKS itu tiga kali sebelum akhirnya ia dan Stella buru-buru bersembunyi dibalik tembok. Kalau sampai Angga tau Sonya dengan sengaja menguncinya diruang UKS, akan tamat riwayat mereka.

Tak berapa lama, mereka melihat Angga yang keluar darisana. Tapi tunggu! Angga tak sendirian. Dia baru saja keluar bersama seorang wanita. Aih, kenapa Angga terlihat perhatian sekali pada wanita itu. Dan ketika wanita itu berbalik, Stella terkejut bukan main. Dia ‘Teressa’.

What!!” kata Stella setengah berteriak.

 

~o0o~

 

Tere menunggu Angga yang tengah mengganti baju ditoilet. Rencananya, Angga akan mengantarnya pulang. Ya, suatu keberuntungan bagi siswa lain namun tak begitu bagi Tere. Mengingat apa yang baru saja terjadi padanya dikamar mandi juga karna Angga. Tapi bagian hatinya yang lain seolah tak bisa menolak lelaki ini. Tere yang keras kepala itu entah kenapa mendadak jinak pada Angga. Ya, walaupun dia memang masih sering nyolot, tapi setidaknya Angga bisa membuat Tere menurut.

Sesuatu yang Tere khawatirkan jadi kenyataan. Ia lihat dari kejauhan Stella bersama pasukannya sedang berjalan kearahnya.

Celaka dua belas!                         

Tere belum siap berhadapan dengan mereka. Ia lalu menghindar dan menyembunyikan dirinya dari pandangan Stella. Perhatiannya saat ini tertuju pada toilet yang tadi Angga masuki. Tanpa berpikir panjang Tere nekat untuk memasuki toilet itu. Ia memalangkan tangannya kesamping untuk menutupi wajahnya. Ia sudah kepalang malu, sehingga tak memperdulikan cowok-cowok yang melihatnya dengan terkejut. Pandangan Tere hanya tertuju pada satu-satunya bilik toilet yang tertutup.

“Lho kok loe disi...” pekik Angga terkejut sebelum mulutnya dibekap Tere.

“Sssttt,” desis Tere dengan jari telunjuk dibibirnya.

Setelah dirasa cukup tenang, barulah Tere melepas tangannya yang tadi membekap mulut Angga. Namun, sekarang malah ia yang tak tenang. Bayangkah saja Tere berada ditoliet bersama lelaki yang baru ia temui tadi pagi! Benar-benar gila bukan? Angga pun hanya bisa melotot dengan mata yang seperti akan loncat keluar. Ia sama sekali tak habis pikir pada Tere.

“Ada apa? Loe gak seharusnya disini, dan loe gak seharusnya liat gue begini. Loe masih dibawah umur,” Angga kemudian membalik badan Tere agar tak melihatnya yang bertelanjang dada.

“G_gue mau pulang sekarang juga!” rengek Tere dengan suara yang menyiratkan kegelisahan kala Angga sudah memakai kaos oblongnya.

Angga menghela nafas, berusaha menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdebar-debar. “Iyah gue anter loe pulang sekarang. Tapi lain kali jangan begini lagi yah, karna gak semua cowok itu bisa jagain cewek,” ujar Angga lirih.

Tere hanya menunduk menyadari kebodohannya.

Angga kembali menghela nafas. Ia kemudian menyampirkan jas sekolahnya pada kepala Tere, melindungi gadis itu dari tatapan orang-orang diluar sana, ataupun dari hal-hal yang tak seharusnya Tere lihat. Dan tanpa ragu Angga lalu menggenggam tangan Tere untuk menuntunnya keluar.

Rasanya aman ketika Tere bersembunyi dibalik punggung Angga. Ia juga merasa tenang karna Angga tak memperpanjang alasan Tere tiba-tiba masuk toilet cowok. Angga seolah mengerti apa yang Tere rasakan tanpa harus ia ungkapkan.

Namun, tepat dipintu keluar...

“Angga?!” pekik Zio terkejut. “Loe tuh darimana aja sih? Loe tau, tim basket ampir aja gak bakalan tampil karna gak ada loe,” gerutunya macam ibu-ibu.

“Minggir, gue mau keluar,” katanya datar dan singkat.

“Loe tuh emang bener-bener yah,” geram Zio yang masih kesal. Tak sengaja sudut matanya menangkap sosok perempuan dibelakang Angga. “Loe ngapain bawa cewek ketoilet?” tanya Zio terkejut. “Jangan-jangan loe mojok yah? Wah kelewatan loe Ga, loe tinggalin tim basket cuma demi mojok sama cewek ditoilet,” Zio yang tak habis pikir. “Dan yang lebih parahnya lagi, loe gak ajak gue Ga. Yaampun tega banget loe Ga, loe mojok gak ajak-ajak,” kata Zio lebay.

“Apaan sih, udah deh loe tuh gak usah ngelantur ngomongnya. Minggir, gue mau lewat,” Angga yang mulai gerah dengan omongan Zio.

“Ciee, Angga udah mulai mojok ciee. Sukur deh Ga, soalnya gue kira loe maho. Abisnya loe gak pernah deket sih sama cewek,” ledek Zio pada Angga yang mulai berjalan menjauh.

Angga menggenggam tangan Tere melewati koridor sekolah yang cukup ramai. Sementara Tere masih setia bersembunyi dibalik punggung Angga sambil menyembunyikan wajahnya dibalik jaket sekolah milik Angga.

Mereka pun sampai diparkiran.

“Loe gak usah dengerin dia,” kata Angga sambil memakai jas sekolah yang tadi tersampir dikepala Tere.

Tere hanya mengangguk lalu menyusul Angga untuk menaiki motornya. Keduanya pun kemudian hilang dibalik gerbang.

Beberapa orang yang melihat kepergian Angga dengan Tere hanya dapat tercengang. Betapa tidak! Karna selama ini Angga dikenal sebagai cowok yang dingin dan tak pernah terlihat berinteraksi dengan perempuan. Juga, menyadari jika Tere-lah perempuan pertama yang berhasil duduk dijok belakang motor Angga, sangat diluar ekspektasi. Keduanya seakan punya karakter bertentangan dan tak cocok jadi pasangan.

Dan tentu Stella yang juga ikut melihat kejadian itu tak dapat menyembunyikan luapan amarahnya. Lagi-lagi ia kecolongan. Oleh anak baru yang bahkan belum genap seminggu sekolah? Bukan main.

“Hah...hah...hah,” Sonya berlari mengejar Stella dengan nafas yang sudah tidak karuan, “udah lah Stel, itu cuma kebetulan. Angga kayaknya cuma pengen nolongin dia doang deh,” ujar Sonya berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Tere duduk dengan menjaga jarak, tangannya ia tumpukan pada jok motor. Tentu saja karna rasanya begitu canggung jika harus bersentuhan dengan Angga. Pemuda ini juga diam saja sedari tadi, hanya semilir angin yang menemani perjalanan mereka melewati jalanan lengang. Hingga saat mereka sampai ditujuan, Tere lekas turun dan membuka helmnya.

“Thanks ya udah anterin gue,”

Angga tak menggubris atau menatap Tere barang sedikit pun. Ia langsung melajukan motornya kembali meninggalkan Tere yang menatapnya hampa. Hari ini cukup berat dan melelahkan bagi Tere. Dan saat ini tujuannya hanya ingin beristirahat, karna esoknya mungkin akan lebih banyak kejutan.

 

~o0o~

 

Angga menghela nafas panjang sambil menggaruk kepalanya kala melihat tugas sekolahnya yang lumayan bejibun. Padahal ini baru tahun ajaran baru. Yah mau bagaimana lagi, karna ia terlahir dengan kepintaran diatas rata-rata, membuat Angga menjadi siswa yang cukup diandalkan. Angga juga tak keberatan, semua kegiatan yang ia lakoni setidaknya cukup bisa mengalihkannya dari sebuah rasa yang seringkali mencuat tanpa bisa Angga cegah. Rasa yang menetap selama bertahun-tahun dalam hati sanubarinya. Ialah rasa bersalah.

Drrttt drtttt

Tiba-tiba saja ponsel Tere bergetar disampingnya. Angga hanya melirik sekilas tak berniat melihatnya. Toh kalaupun ada notifikasi yang masuk itu bukan untuk dia.

Drrrttt drrttt

Angga masih acuh, dan tetap fokus pada tugasnya. Sampai ketika ia sudah tidak tahan, “kenapa bunyi mulu, sih?” Angga yang mulai penasaran hanya mendesis kesal kemudian meraih benda persegi tersebut. Ya, mungkin saja ada sesuatu yang penting bukan?

Angga lalu membuka ponsel Tere yang sebelumnya memang tak diberi password. Ketika ia lihat, banyak sekali notifikasi dari whatsapp ataupun sosial media lainnya. Angga tersenyum miring kala melihat isi  chat Tere yang dipenuhi dengan nomor-nomor tak dikenal.

 

08**********

Hai manis!

 

08**********

PPPPPP

 

08**********

Kenalin Reza (emot kiss)

 

Farel

Kamu udah pulang sayang? Mau aku jemput?

 

Samsudin

Re, kenapa telpon aku gak diangkat? Kamu dimana? Udah pulang sekolah?

 

Dan masih banyak lagi chat yang tenggelam dan tertimbun dibawah sana. Angga hanya bisa geleng-geleng kepala merasa geli sendiri. Ya, kalau dipikir-pikir tak ada gunanya juga HP Tere berada padanya, karna toh nomor dan seluruh isi kontaknya tentu teman-teman Tere semua, walaupun kebanyakan memang cowok-cowok gak jelas.

“Ck ck ck,” Angga yang berdecak tak habis pikir dengan cowok-cowok yang dinilainya kurang kerjaan karna terus mengirim pesan pada Tere, yang jelas-jelas tak akan membalas.

Angga yang terlanjur memegang ponsel Tere tak bisa menghentikan jemarinya untuk menelusuri apa yang ada. Ya, kini Angga beralih pada galeri foto, dan mendapati banyak sekali foto selfi Tere.

“Apa semua cewek itu emang suka selfi?” gumam Angga seraya melihat satu potret Tere yang dinilainya cukup cantik. Aih, apakah Angga baru saja menyadari jika Tere cantik?

I want nobody nobody bap cu...

“Isshh kenapa alay banget, sih” Angga sedikit jijik kala mendengar nada panggilan masuk dari handphone Tere. Tanpa pikir panjang, dia mengangkatnya.

“Halo Re,”

Angga diam.

“Gimana kabarnya? Masih ingeut sama gue?”

Angga masih diam.

“Gue Zidan, sekarang gue ada di Bogor”

“Halo,” Angga akhirnya menyahut.

Diam beberapa saat, “loe cowoknya, yah?”

Angga diam.

“Tolong jagain Tere yah, jangan tinggalin dia, dan kalo loe gak keberatan gue titip salam. Kalo loe sampe nyakitin dia, siap-siap aja. Karna gue bakal ambil dia dari loe,”

Tuutt tuutt

Angga mengerutkan dahi. Bukan heran mendengar ucapan cowok tadi, melainkan heran dengan dirinya sendiri. “Kenapa juga harus gue angkat?” tanyanya pada diri sendiri.

Tak lama kemudian terdengar suara riuh rendah dari lantai bawah. Angga menghela nafas sesaat lalu turun untuk melihat sumber suara itu. Ya, walaupun dia sudah tau siapa sebenarnya yang datang. Tentu, siapa lagi kalau bukan Zio and the genk.

“Eh ada babang Angga,” sapa Zio kala melihat Angga yang menuruni anak tangga.

“Yajelas ada guelah, orang ini rumah gue,” sahut Angga dengan ekspresi andalannya.

Zio hanya cengengesan, “galak amat, sih”

“Lagian kalian juga, bisa gak sih kalo mau masuk itu ketok pintu dulu,” gerutu Angga sambil melenggang keruang tamu.

“Sebetulnya kita udah ngetok Ga,” Raka menanggapi sambil berjalan mengikuti Angga. “Tapi dalam hati,” candanya.

“Lagian tadinya gue kira loe gak ada dirumah. Gue kira loe lagi... malam mingguan sama cewek loe,” celetuk Aji yang disusul dengan gelak tawa yang lain.

Mereka tanpa sungkan duduk berkumpul diruang tamu. Ya, rumah Angga sudah seperti rumah kedua bagi mereka. Mungkin karna Angga tinggal sendirian membuat mereka tak segan untuk berkunjung kapan pun. Apalagi dimalam minggu seperti ini.

“Kata siapa gue punya cewek?!” sanggah Angga dengan dahi berkerut.

“Semua orang juga liat kali pas loe pulang bareng sama sianak baru itu,” jawab Zio yang tengah mengeluarkan PS 5 dari lemari TV.

“Tapi itu gak bisa dijadiin alasan kalian bilang kalo dia itu cewek gue,” sergah Angga.

Raka menarik nafas panjang kemudian menatap mata Angga lekat-lekat, “gue paham, loe pasti lagi PDKT kan Ga? Kalo loe butuh saran, loe bisa tanya kegue kapan pun,” tutur Raka sambil menepuk-nepuk bahu Angga, berlaga macam manusia paling bijak.

Angga menepis tangan Raka kasar, “gue gak lagi PDKT, dan gue juga gak punya pacar!” tegas Angga dengan sorot mata tajam.

 

~o0o~

Tere memandangi seragam sekolah Angga yang baru saja akan ia cuci. Entah kenapa Tere jadi senyum-senyum sendiri melihatnya, seolah ada sekelebat peristiwa yang tengah ia ingat. Ya, kejadian tadi siang sebetulnya cukup menggelikan. Dan entah kenapa jantungnya kembali berdebar-debar ketika mengingat wajah Angga.

“Tunggu! Kenapa gue jadi mikirin dia?” Tere yang tersadar dari lamunannya pun dengan segera memasukkan baju Angga kedalam mesin cuci.

Ia lalu berjalan menuju kulkas untuk kemudian menenggak sebotol minuman dingin. Lagi, pikiran Tere melayang mengingat tadi siang Angga juga memberikannya sebotol minuman.

“Isshh,” desis Tere kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ingeut Re, dia itu cowok nyebelin, rese, dingin, dan hampir bikin loe nangis. Bahkan dia juga yang bikin loe tadi dikerjain sama Stella dan atek-anteknya,” Tere berusaha menekankan pada dirinya mengenai hal-hal buruk tentang Angga.

Akan tetapi, otaknya tak mau diajak bekerja sama. Ya, yang terbayang dibenak Tere sekarang justru senyuman Angga, tatapan matanya yang lembut namun sedikit mengintimidasi. Juga, moment saat ia dan Angga terkunci di UKS tadi siang.

 

Flashback on

“Loe tidur?” tanya Tere melihat Angga yang tidak membuka matanya.

“Heem,” sahut Angga singkat dan tak bergeming sedikit pun.

Terlihat dengan sangat jelas jika Angga ini sedang kecapean. Ya, baganimana tidak? Angga menggendong Tere menuju UKS yang letaknya cukup jauh. Ditambah dengan ia yang punya banyak kegiatan dari pagi sampai siang, sepertinya Angga memang kurang istirahat. Sekilas Tere melihat pelipis Angga yang bercucuran keringat. Kasian, cowok ini benar-benar kelelahan. Dengan langkah tanpa sadar Tere mendekati Angga, mengikis jarak lalu mensejajarkan wajahnya.

“Ternyata loe ganteung juga,” gumam Tere pelan sambil mengusap  keringat Angga.

“Baru nyadar loe,” Angga yang tiba-tiba membuka mata, membuat Tere terpaku dengan wajah sedikit terkejut.

Untuk sesaat keduanya terjebak dalam iris mata masing-masing. Angga menatap dalam manik mata coklat gelap itu, berusaha menemukan suatu hal disana. Sesuatu yang dapat membuat Angga diam penuh arti.

Tuk tuk tuk

Keduanya terlonjak kaget. Tere segera berdiri dan mengalihkan pandangannya. Sial! Kenapa jadi awkward begini sih? Tere terus merutuki kebodohannya.

 

Flashback off

 

Terdengar suara jentikkan jari yang membuayarkan lamunannya.

“Kenapa loe senyum-senyum sendiri?” tanya Brayen adiknya, yang entah sejak kapan ada dihadapan Tere.

“Isshh ngapain sih loe, merusak suasana hati gue aja,” gerutu Tere kesal.

Brayen tersenyum jail, “loe pasti baru dapet pacar baru yah,” goda adik satu-satunya ini.

“Bukan urusan loe!” kata Tere tajam.

Brayen mengusap-ngusap dagunya, terlihat sedang pura-pura berpikir, “kalo kak Sam tau gimana yah?” kata Brayen sambil memperlihatkan panggilan masuk dari Samuel.

“Awas kalo loe bilang yang macem-macem sama dia!!” ancam Tere dengan kepalan tangan yang siap meninju Brayen kapan pun.

Brayen menjauh sambil memeletkan lidah mengejek Tere. Tentu saja, tanpa dipikir dua kalipun Tere langsung mengejar adik kurang ajar itu. Ya,  sekali-kali anak itu memang harus diberi pelajaran.

“Udah-udah jangan ribut mulu!” teriak Ayana mamah Tere yang tengah menata makanan dimeja makan.

Tere maupun Brayen sama sekali tak menghiraukan ucapan Ayana. Mereka justru lari mengelilingi meja makan dan menghambat langkah Ayana. Dua bocah itu memang selalu saja bertengkar, dan kalau sudah begini tak ada pilihan selain menjewer telinga mereka keras-keras.

“Masih mau ribut?! Gak malu apa?!! Kalian tuh udah besar. Kamu juga Re, kamu tuh udah masuk SMA tapi kelakuan masih kayak anak SD!” geram sang ibu ratu sambil menjewer telinga kedua anaknya itu.

“I...iya mah aduuuhhhhh sakit mah sakit,” rintih Tere mohon ampun.

“Iya mah, maafin Brayen mah,” timpal Brayen yang juga kesakitan.

Ayana melepaskan tangannya dari telinga Tere dan Brayen yang terlihat sudah sangat merah. Keduanya pun menggosok daun telinga yang terasa perih. Yah, Ayana memang terkadang bersikap kejam jika Tere dan Brayen sulit diatur.

“Ada apa sih? Kenapa pada ribut?” tanya Erwin papah Tere.

“Ini lho pah, udah gede tapi masih aja berantem,” adu Ayana pada suaminya.

Keluarga kecil itu pun mulai mengambil tempat dikursi masing-masing. Tere dan Brayen duduk bersebelahan dengan tatapan saling mendelik.

“Ini lho pah, tadi kak Sam nelpon Rey dia nanyain kenapa HP kak Tere gak aktif. Tapi kak Terenya malah snewen sendiri,” Brayen melirik Tere dengan tatapan kemenangan.

“Kenapa HP kamu gak aktif, Re?” tanya sang ayah.

“Emmm, HP aku... ketinggalan tadi, terus dibawa sama temenku. Besok juga dibalikin,” alibi Tere menahan rasa gugup.

“Temen apa temen?” celetuk Brayen memprovokasi.

Tere menginjak kaki Brayen dari kolong meja, “nyebelin bangeut sih loe!”

“Sakit beg...”

“Eheemm,” dehem Ayana dengan tatapan tajam pada putra keduanya.

 

~o0o~

 

Tere menyusuri sebuah padang rumput dengan mata terkagum-kagum akan keindahannya. Pandangannya menelisik setiap inci tempat itu. Sudut matanya tak sengaja menangkap kehadiran seorang gadis yang tengah berdiri sambil menatapnya dikejauhan. Tere lalu berjalan menghampiri gadis itu.

Gadis muda itu tampak seperti seumurannya. Dia memakai dress putih selutut. Rambut panjang sebahu ia biarkan tergerai dan tertiup angin. Jangan lupakan senyum manis yang mempesona dengan tatapan lembut yang menenangkan. Gadis ini benar-benar cantik bukan main.

“Kenalin, Airis” dia menyodorkan tangannya sambil tersenyum ramah.

“Teressa,” sahut Tere sembari menjabat tangannya.

Gadis bernama Airis itu kemudian menarik Tere untuk duduk dibangku panjang dekat pohon besar yang teduh.

“Kamu tau? Aku ini adalah orang yang donorin jantungnya buat kamu,” Airis memulai pembicaraan dengan senyuman ramah.

Tere sedikit tertegun. Kalau begitu, berarti orang yang ada dihadapannya ini adalah arwah? Entahlah, dia hanya tersenyum kecil. Tere tak tau harus berkata apa.

Airis menghela nafas, “tapi, sampai sekarang aku belum bisa pergi dengan tenang,” senyuman ramah Airis berubah muram.

Tere berdehem singkat. “K...kenapa?” tanya Tere hati-hati.

“Ada orang yang belum bisa merelakan kepergianku,” jawabnya dengan sorot mata hampa.

“Mungkin gue bisa bantu?”

Senyum ramah itu terbit kembali, “kamu mau bantu?” tanya Airis sumringah.

Tere mengangguk pelan. Ya, apalagi yang bisa ia lakukan?

“Kalo gitu, coba tutup mata kamu,” perintah Airis yang langsung dituruti oleh Tere tanpa protes.

Tak lama Tere rasakan jika tangan lembut Airis yang sedikit dingin menyapu wajahnya perlahan. Jujur saja, Tere sama sekali tak paham dengan apa yang terjadi. Rasanya, ia tak sadar.

“Sekarang, buka mata kamu,”

Tere membuka matanya segera. Namun, bukan padang rumput lagi yang ia lihat. Melainkan langit-langit kamarnya. Ia bangkit dengan nafas tak teratur dan keringat dingin. Ya, tadi itu hanya mimpi. Perempuan tadi tidak nyata! Itu hanya bunga tidurnya saja. Batin Tere bergumam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar