ANTHEA - 05

 

05. Menghindari Takdir

 

“Ketika Semesta memaksa, aku bisa apa?”

 --Teressa Aulia --

 

Tere mengambil sepotong baju yang sudah terlipat rapih dari dalam lemarinya. Sebelum memasukkannya kedalam paver bag Tere terlebih dulu menyemprotkan parfum favoritnya. Hari ini dia sudah siap memulai hari yang baru.

Semua mata langsung tertuju pada Tere kala ia memasuki kelasnya sendiri. Tere agak sedikit risih. Tapi yasudahlah, cewek itu tak mau terlalu mempermasalahkannya.

“Loe duduk disini aja!” seorang cewek tiba-tiba menarik Tere untuk duduk disebelahnya. “Steffi,” cewek itu menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.

“Teressa,” balas Tere.

Tak biasanya. Ya, meskipun Tere dapat dikategorikan cewek cantik dan cukup populer dikalangan cowok-cowok. Tapi, ia selalu dikucilkan oleh para cewek. Entahlah apa alasannya, mungkin karna iri.

Tak berapa lama datang seorang cowok yang duduk didepan bangku Steffi dan Tere.

“Eh, Stef” sapanya. “Siapa yang duduk sama loe?” tanya cowok itu sedikitt pelan, kemudian melempar senyumnya pada Tere.

“Ini Teressa. Pacarnya kak Angga itu lho,” jawab Steffi dengan antusias.

Deg!!

‘Pacarnya Angga?!’ sumpah demi apa pun, rasanya Tere ingin mengutuk siapa saja yang sudah menyebarkan fitnah keji itu.

“T_tunggu! Maksud loe?” tanya Tere tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Alah udah deh gak usah pura-pura gitu. Semua orang juga udah tau,” kata Steffi dengan senyuman menggoda.

Tere hanya mendelik masih tak percaya.

“Bahkan semua juga udah tau kalo waktu itu loe pernah mojok sama kak Angga di kamar mandi. Udah deh ngaku aja gak usah pura-pura lagi,” timpal cowok tadi yang diketahui bernama Dion.

“Kayaknya kalian salah paham deh. Gue sama Angga gak ada apa-apa,” elak Tere memasang tampang serius.

“Cieee panggil nama, disuruh kak Angga, yah”. Lagi-lagi Steffi menggodanya.

Tere menarik nafas jengah. “Gue serius, gue gak boong. Gue sama Angga gak ada apa-apa,” Tere kembali meyakinkan.

“Coba liat deh ini,”  Steffi menunjukkan sebuah postingan foto dia dan Angga di salah satu akun komunitas sekolah. “Masih mau boong?”. Goda Steffi. “Loe kemaren pulang bareng kak Angga kan?”

“Emangnya salah gue pulang bareng dia?” Tere membela diri.

“Ya gak salah sih,” Steffi tampak mulai menyetujui Tere.

“Eh, tapi kan loe kemarin mojok sama kak Angga ditoilet?!” timpal Dion memperlihatkan postingan yang lain.

Postingan itu menceritakan saksi mata yang melihat dengan mata kepalanya sendiri kalo Angga dan Tere keluar dari toilet yang sama.

“Semua orang udah tau Re, loe gak bisa ngelak lagi,”  Dion berhasil membungkam Tere.

Tere mendengus kesal ‘Gosip sialan’. Ia tak suka posisinya sekarang. Ia sadar, kalau ia sedang terjebak dengan takdir yang Airis maksud. Tapi, ini hidup Tere. Lagi, ia mengikuti egonya. Tere tak memperdulikan ocehan Airis dalam mimpi semalam. Kita buktikan saja, takdir ataukah ego Tere yang menang.

 

~o0o~

 

“Ini seragam loe yang kemaren. Makasih untuk bantuannya,” Tere menyerahkan sebuah paver bag pada Angga.

Kebetulan istirahat kali ini, Tere menyempatkan waktu sesaat untuk menemui Angga di taman belakang sekolah. Karna ada hal yang harus ia luruskan.

“O ya, ini juga HP loe gue balikin. Lupain aja yang kemarin, loe gak usah ganti. Gue juga udah beli yang baru,” Angga merogoh sakunya lalu menyerahkan benda persegi milik Tere.

Tere terdiam. Tangannya ragu untuk menerima handphone itu. Ia benci jika harus berhutang budi pada Angga.

“Udah terima aja!! Gak usah banyak mikir,” Angga memberikan HP itu secara sepihak pada genggaman Tere.

Tere hanya mampu menarik nafas berat. Saat ini, dia memang tak punya pilihan. “Ok, kalo gitu berarti urusan kita selesai!” tutur Tere dengan wajah seriusnya.

“Alangkah lebih baiknya kita jaga jarak supaya gosip itu juga hilang dengan sendirinya,” balas Angga seolah mengerti keresahan Tere.

“Gue setuju,” Tere mengangguk mantap. “Kalo bisa anggap aja kita gak pernah saling kenal,” tambahnya.

Angga pun mengangguk setuju. Rasanya memang akan lebih baik jika mereka tak saling kenal.

“Oke, thanks yah atas semuanya,”

“Gue juga”.

Setelahnya Tere maupun Angga berjalan berlawanan arah. Tere tersenyum puas. Lihat! Ini hidup Tere, ia yang tentukan setiap pilihannya. Tere merasa menang kali ini.

Sekilas, Tere melihat Airis yang tengah menatapnya dibalik tembok. Ia menyeringai, memperlihatkan bahwa Airis salah. Takdir hanya karna mereka punya jantung yang sama? Ayolah! Bukan berarti Tere juga punya takdir yang sama. Tere dan Airis punya takdirnya sendiri-sendiri. Dan takdir Tere bukanlah Angga!

Langkah kakinya membawa Tere ke kantin untuk makan siang. Pertempuran ini cukup menguras tenaganya. Setidaknya Tere harus kembali mengisi kembali energinya agar bisa melawan ‘Sam’. Orang yang selama ini mencoba mengendalikan hidupnya.

“Darimana aja loe?” tanya Steffi tepat saat Tere duduk disebelahnya.

“Kepo loe,” jawab Tere jutek.

“Alah paling abis ketemuan,” goda Steffi.

Tere melotot. “Jangan bahas itu lagi!” ujar Tere tegas lalu mencomot kerupuk yang ada diatas mie ayam milik Steffi.

“Eh, ada bu KETOS! Nih gue bawain bakso buat loe”. Tiba-tiba Dion datang sambil menenteng semangkuk bakso untuk diberikan pada Tere.

“Ni lagi apa, jangan panggil gue gitu. Gue gak suka,” kesal Tere.

“Iyadeh. Eh tapi jangan lupa yah, bilangin ke kak Angga kalo gue tuh temen sekelas yang baik. Apalagi sama pacarnya,” Dion yang cengengesan. “ Kali aja, gue bisa satu genk sama kak Angga. Biar kecipratan kerennya,” Dion terkekeh pelan.

Tere menghela nafas kasar kemudian tersenyum kecut. Semua perhatian yang ia dapatkan hanya karna gosip yang mengatakan kalau dia adalah ‘pacarAngga’. Miris, rasanya tak ada satupun teman yang tulus padanya.

“Kalo gue bukan pacarnya sibapak KETOS, apa loe masih mau bawain gue bakso kayak gini? Dan loe juga, apa masih mau duduk sebangku sama gue?”. Tere memandang Dion dan Steffi bergantian. 

“Kenapa sih loe gak mau ngakuin hubungan loe sama kak Angga? Sampe sebegitunya!” Steffi yang juga terlihat kesal.

Tere berdecak, harus bagaimana lagi agar mereka percaya! Tere sudah muak dengan gosip murahan itu.

“Oke, gue bakal buktiin kalo gue itu single. Kalian liat cowok itu?” Tunjuk Tere pada salah satu cowok yang entah siapa namanya sedang berkumpul bersama teman-temannya.

“Liat, emangnya kenapa?” tanya Dion terlihat bingung.

“Gue bakal tembak dia. Dan ngebuktiin ke kalian dan kesemua orang kalo gue gak punya hubungan apa pun sama Angga,” kata Tere tanpa ragu.

Steffi dan Dion hanya dapat tercengang melihat Tere yang mulai berjalan kearah meja cowok itu. Ya, Tere berjalan dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Akan ia buktikan sekali lagi, kalo ia bisa menentukan apa pun yang ia mau.

Beberapa langkah lagi, dan Tere akan sampai pada meja yang dituju. Akan tetapi, tiba-tiba saja kakinya dijegal oleh seseorang yang entah siapa. Itu membuat langkahnya oleng, dan tak sengaja menabrak tubuh seseorang. Tubuh Tere sedikit terpelanting sampai akhirnya sepasang tangan dengan sigap menahan tubuh mungilnya. Tapi, posisinya sungguh tidak tepat. Tere jatuh pada dekapan Angga. Tidak! Bukan hanya itu, bahkan ia tak sengaja mencium pipi Angga karna tubuh yang tak seimbang tadi dan hanya bertumpu pada dada bidang Angga.

Angga sendiri hanya dapat mebelalakkan matanya. Makan siangnya mendadak kacau karna kejadian luar biasa tak terduga ini. Entah dorongan darimana, ia langsung menahan tubuh Tere yang jatuh tepat didepan meja tempat ia makan. Dan lihat sekarang, hal yang seharusnya tidak terjadi justru disaksikan semua orang. Secara tidak langsung Angga telah memproklamirkan hubungannya dengan Tere. Dan gosip murahan itu pun akan kembali menjadi trending topik.

Semua mata tertuju pada Tere dan Angga. Sementara Zio dan kawan-kawan bersiul-siul menggoda. Lalu yang lainnya bersorak seolah sedang menonton pertandingan bola. Tere sendiri langsung menjauhkan wajahnya dari pipi Angga namun tak beranjak dari pangkuan cowok itu. Peredaran darahnya seolah berhenti saat itu juga. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ditengah ketegangan itu sudut matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tadi menjegalnya. Dan alangkah terkejutnya ia menyadari kalau orang itu adalah anak kecil menyeramkan yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

“Aaahh! Gue takut,” Tere memekik kaget seraya menenggelamkan wajahnya pada dada Angga.

“Cieee ciee,” goda semuanya serentak.

Angga yang sudah tak tahan pun menarik tangan Tere menjauh dan membawanya kesalah satu koridor sekolah yang sepi.

“Loe kenapa sih? Loe lagi main-main sama gue?!” bentak Angga kesal.

 Tere diam sambil menunduk. Ia benar-benar mati kutu.

“Gue udah cukup sabar sama kejadian kemaren. Kalo loe emang lagi cari perhatian, jangan libatin gue. Gue terlalu sibuk untuk ngeladenin permainan loe!” kata Angga dingin dan tegas.

Tere yang menunduk akhirnya mendongakkan kepalanya. Ia menatap Angga dengan sorot mata berkaca-kaca. Angga pikir Tere mau keadaannya seperti ini?! Tere juga korban disini. Ia korban dari takdir yang melibatkannya dengan Angga. Ya, masa lalu Angga lah yang membuat keadaannya jadi rumit seperti ini. Kisah cinta Angga lah yang membuat Tere harus mengorbankan hidupnya untuk memperbaiki apa yang rusak pada masa itu. Terikat takdir hanya karna Tere memiliki jantung mantan kekasih Angga? Sungguh lelucon yang tidak lucu. Dan sekarang dia yang disalahkan.

“Loe pikir gue mau kayak gini?! Gue juga gak mau! Gue juga udah muak berurusan sama loe. Loe gak bisa salahin gue secara sepihak kayak gitu,” ujar Tere dengan terisak. Akhirnya, air matanya jatuh juga.

Angga membisu. Tak disangka, pertahanannya lemah karna tangisan Tere. Hatinya terenyuh begitu saja. Ia lalu mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Tere yang sedikit kaget refleks melangkah mundur. Namun, Angga semakin memojokkannya sehingga punggung Tere membentur tembok.

“Pukul gue!” titah Angga dengan wajah tanpa ekspresi.

Tere mengedipkan matanya beberapa kali karna bingung.

“Cepet pukul gue! Lampiasin semua amarah loe! Biar nanti gak sesak nafas lagi. Gue lebih suka loe yang marah-marah dan teriak-teriak daripada nangis kayak gini. Cengeng tau!” Angga menatap Tere tepat dimanik matanya, membuat Tere semakin terpaku.

Perkataan Angga itu justru membuat Tere tiba-tiba semakin kesal. Apa-apaan Angga? Apa itu salah satu bentuk perhatian Angga? Tere tak suka dengan sikap sok manis itu. Dia membenci Angga yang perhatian, dia benci Angga yang lembut. Dan dia benci pada dirinya sendiri karna luluh pada perhatian Angga. Tere membenci ini, ia benci perasaannya.

“Minggir loe!” Tere mendorong Angga untuk menjauh lalu beringsut pergi sambil kembali terisak.

Tere marah, kesal, tapi pada siapa? pada Angga? Ataukah pada takdir? Atau pada dirinya sendiri? Kenapa semua mendadak rumit begini? Dan tanpa Tere sadari jika perasaannya sudah berperan. Kalau sudah melibatkan rasa, tak ada yang bisa mencegah jatuh cinta.

Angga hanya dapat memandang nanar punggung Tere yang menjauh. Ada hal yang mengganjal hatinya. Angga tak tahu permainan apa yang sekarang tengah ia hadapi. Ia hanya berusaha untuk hidup normal seperti biasa. Akan tetapi kehadiran Tere mengubah haluannya. Dari normal menjadi tak masuk akal.

 

~o0o~

 

Terlepas dari drama hidupnya yang terasa pelik. Tere juga punya realita tersendiri. Malam ini, ia akan marathon nonton drama Korea. Mungkin sedikit hiburan dapat merilekskan otaknya. Ya, Tere rasanya mau gila menghadapi kejutan bertubi-tubi ini.

Ia lalu membuka kulkas dan mencari cemilan disana. Tere mengambil beberapa makanan ringan dan minuman dingin. Mungkin malam ini Tere  bisa sedikit melupakan kenyataan dan tenggelam dalam kisah drakor kesukaannya. Mungkin saja.

Saat di pertengahan menaiki anak tangga, tiba –tiba saja botol minuman Tere terjatuh.

Prang!!

Semua cemilannya pun lolos dari genggamannya dan berserakan. Tere memegang dadanya kuat-kuat menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak. Ada sakit yang tak dapat Tere jelaskan. Nyeri, jangtungnya seakan terkoyak. Tere terduduk di anak tangga sambil meringis di keheningan malam. Ia mengatupkan rahang menahan luka yang tak berdarah itu.

‘Dan hanya dengan cara ini, perasaanku akan tetap tersampaikan pada Angga. Meskipun ragaku kini telah tiada, meskipun rasa cinta ini tidak sama persis dengan rasa cintaku. Aku tetap bahagia, karna jantungku tetap berdetak untukmu, walau perasaan itu kini bukan milikku. Tapi, setidaknya aku masih bisa mencintaimu dengan caraku’.

Airis berdiri diatap gedung tinggi. Mata sayunya nampak hampa menatap langit yang gelap gulita. Ia kembali teringat Angga yang baru saja dilihatnya. Angga tengah merenung, seraya meratapi masa lalu. Ya, Angga terdiam di keheningan sambil memandang secarik foto Airis. Lukanya kembali basah. Penderitaannya semakin dalam karna Angga tak bisa beranjak. Ia terperangkap dalam masa lalunya. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia benar-benar bahagia. Sisi lain diri Angga begitu miris. Ia sendiri, kesepian dengan segudang perih yang ia pendam.

Lalu Tere? menjadi perantara perasaan Airis pada Angga? Jika Angga menangis hati Tere juga ikut terluka. Ini benar-benar diluar kendalinya. Tere sadari, tak selamanya ia bisa  bertumpu pada ego. Karna nyatanya takdir lebih pandai daripada keegoisan Tere.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar