ANTHEA - 04
04. Mendadak Indigo
Hari ini adalah hari
pertama Tere sekolah setelah masa orientasi. Meskipun kemarin dia sering
melanggar aturan, tapi dihari pertama sekolah ini Tere ingin merubah image-nya.
Karna toh sebenarnya pelanggaran yang ia lakukan kemarin adalah bentuk
pemberontakannya pada Stella ataupun pada anggota OSIS lainnya.
Karna memang dari awal
Tere sudah bermasalah dengan cewek pengharum ruangan itu. Stella selalu
mengusiknya, ataupun mencari-cari kesalahannya. Mungkin karna kehadiran Tere
sedikit banyaknya menggeser popularitas Stella.
Melupakan yang kemarin,
sekarang dia ingin membuka lembar yang baru. Tere berjalan gontai memasuki
kamar mandi. Dia lalu menggosok gigi dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Sesaat sudut matanya tak sengaja menangkap pantulan orang lain dicermin. Tere
mendongak dan melihat kembali, tapi tak ada apa-apa. Itu hanya halusinasinya
saja.
Ia menarik nafas lega.
Pikiran-pikiran negative itu berusaha ia enyahkan. Namun, tepat ketika
ia berbalik badan...
“Aaaa!!!” teriak Tere
terkejut melihat sesosok anak kecil menyeramkan dibelakangnya.
Anak kecil itu tersenyum
dengan bibirnya yang sudah tak berbentuk dan dipenuhi luka. Wajah pucat, rambut
panjang dengan baju putih lusuh benar-benar membuat ia terlihat sangat
menakutkan. Dilihat dari tingginya, dia seperti anak berumur lima tahunan.
“S...siapa loe?” tanya
Tere seraya memalingkan wajah tak mau melihat anak kecil itu barang sedikit
pun.
Anak kecil itu tak
menjawab, dia hanya tertawa girang lalu berjalan kearah Tere hendak memeluknya.
“Jangan deket-deket!!”
Tere menghindar kesisi yang lain.
“Aaaa!!” Tere kembali
berteriak saat anak itu benar-benar ada didekatnya.
Dan semuanya pun mendadak
berubah gelap. Tere pingsan.
~o0o~
Pelajaran sudah
berlangsung sekitar dua puluh menitan. Semua sibuk mendengarkan dan mencatat
beberapa hal yang tengah diterangkan bu Eli yang merupakan guru SBK. Bukannya
apa-apa, khusus untuk pelajaran bu Eli murid nakal ataupun asbun (asal bunyi)
mendadak jadi manut dan pendiam. Sepertinya bu Eli punya kekuatan magic yang
mampu mengendalikan mereka.
Namun, tiba-tiba saja ada
suara yang memecahkan keheningan tersebut.
I want nobody nobody bap
cu
I want nobody nobody bap
cu
Tunggu! Bukankah itu suara dering panggilan dari ponsel
Tere? Angga terpaku beberapa saat ditempat duduknya, untuk kemudian ia sadari
ada yang bergetar disakunya. Bahkan Zio sampai menyikutnya sambil melotot,
meyakinkan Angga jika memang HP yang bergetar itu berasal dari saku seragamnya.
Bu Eli menatap tajam seraya mengedarkan pandangannya,
kemudian berhenti tepat dibangku Angga.
“Maju kedepan, angkat telponnya disini!” ketus bu Eli
memberikan perintah mutlak.
Angga menarik nafas gusar, kemudian menuruti perintah bu
Eli tanpa protes. Semua orang tampak terkejut, tak terkecuali Stella.
Benar-benar aneh bukan? Angga seperti orang yang berbeda sekarang. Dan nada
panggilan itu sama sekali bukan gaya Angga. Begitulah kira-kira keresahan dan
pertanyaan yang muncul dalam benak orang-orang maupun Stella.
Angga berdiri didepan
kelas. Ia mengangkat panggilan masuk itu dan menloudspeakerkannya setelah
mendapat pelototan dari bu Eli. Semua orang pun hanya diam memasang kuping
baik-baik saking penasarannya.
“Halo,” terdengar suara wanita
paruh baya dari panggilan itu.
“Halo,” sahut Angga gugup.
“Ini mamahnya Tere. Kamu
temennya Tere kan? Tolong bilangin yah sama wali kelasnya Tere, kalo hari ini
Tere gak masuk sekolah dulu. Dia sakit gak enak badan, tadi pagi aja dia
pingsan,” tutur mamah Tere.
Angga diam beberapa saat,
“I...iya tante,” jawab Angga akhirnya.
“Makasih, yah” ujar mamah Tere sebelum
menutup panggilannya.
Zio tampak mengelus-ngelus
tenggorokannya sambil berdehem, seolah memberi isyarat pada teman-temannya
untuk...
“Cieeee cieeee,” sorak
sekelas dengan kompak.
“Diam semuanya!!” kata bu
Eli tajam membuat seisi kelas hening kembali. “Biar saya yang kasih tau ke wali
kelasnya. Kamu boleh duduk!” suruh bu Eli pada Angga yang tampak diam mematung.
“Ciee Angga ciee,” bisik
Zio pelan tepat ditelinga Angga yang baru saja duduk kembali dibangkunya.
Angga balas melotot tajam
membuat nyali Zio ciut seketika dan kembali fokus pada pelajarannya. Sementara
Angga sendiri hanya bisa menarik nafas panjang, kenapa semua mendadak rumit
begini yah?
“Tere sakit apa Ga? Kenapa
dia bisa sampe pingsan?” tanya Aji saat mereka sedang berada dikantin.
“Mana gue tau,” jawab
Angga dingin lalu melahap potongan bakso yang cukup besar.
“Masa loe gak tau sih, loe
kan pac...” baru saja Zio ingin bicara namun tatapan horor Angga membuatnya
berpikir dua kali,” gebetan maksudnya gebetan,” lanjut Zio meralat omongan
sebelumnya.
“Ga, gue saranin hari ini
loe jengukin Tere dan bawain makanan kesukaan dia,” kata Raka menggurui.
“Dih, ngapain?! Kenal aja
baru kemarin,” tolak Angga mentah-mentah.
“Duh Ga, loe tuh gimana
sih?! Ini tuh kesempatan emas buat loe!” Raka yang malah gemas sendiri.
“Eheem eheem,” Angga
menelan makanannya dengan susah payah. Ya, sepertinya memang harus ada yang
diluruskan. Angga tak mau kesalahpahaman ini terus-menerus berkelanjutan. “Gini
yah, gue sama dia sama sekali gak ada apa-apa. Kita baru ketemu kemaren, gue
cuma tolongin dia karna sakit, abis itu anterin dia pulang karna kaki dia masih
sakit, udah cuma gitu doang kok,” tutur Angga menceritakan kronologi yang
sebenarnya. “O iya, satu lagi. HP ini sebetulnya punya dia, karna kemaren dia
rusakin HP gue. Ya, mugkin karna ngerasa bersalah dan gak enak, dia suruh gue
pake HP-nya dulu,” jelas Angga sedetail mungkin.
“Maksudnya loe tukeran HP
sama dia?” Aji memberi kesimpulan.
“Gak tukeran juga sih,
kayak gimana yah?! masa kalian gak paham, sih?!” Angga mengacak-ngacak rambut
frustasi.
“Terus loe kenapa kemarin
gak ikut tampil sama tim basket, dan malah berduaan sama Tere ditoilet?” skak
Zio membuat Angga mati kutu.
“Gue juga gak paham kenapa
dia tiba-tiba masuk ke toilet cowok!” Angga berusaha menjelaskan sekuat tenaga.
“Sok polos loe Ga!” ejek
Raka.
Angga kembali menarik
nafas panjang, “bodo amatlah, terserah kalian aja,” Angga yang sudah berada
dipuncak keputusasaan lebih memilih fokus pada mangkuk baksonya.
~o0o~
“Kamu kenapa? Kok bisa
tiba-tba pingsan begini? Ada yang sakit?”. Wanita paruh baya itu mengusap
lembut kepala putrinya yang tengah terbaring diatas kasur.
Tere masih saja diam. Hari
pertamanya sekolah hancur karna insiden tak diduga. Ia masih memikirkan apa
yang sebenarnya terjadi? Apa benar tadi ia melihat penampakan?
“Tere gak papa kok mah,” gadis
itu akhirnya bersuara namun dengan wajah yang murung.
Ayana mamah Tere hanya
menarik nafas berat. “Yaudah mamah mau pergi dulu yah. Nanti juga bakal ada Sam
jengukin kamu,” ujar Ayana kemudian pergi setelah mengecup pucuk kepala Tere
pelan.
Tere tak merespon. Dia
tetap tenggelam dalam lamunannya. Bukan hanya penampakan tadi pagi, Tere juga
memikirkan gadis yang menemuinya dalam mimpi semalam. Ia juga ingat betul
namanya, Airis. Entah kenapa fakta bahwa Airis yang mendonorkan jantungnya
untuk Tere menjadi beban tersendiri. Bukannya apa-apa, tapi Airis sendiri
mengatakan kalau dia belum bisa pergi dengan tenang. Itu berarti, ada hal yang
belum ia selesaikan atau ada suatu hal yang menghalanginya. Lalu apa hal itu
ada hubungannya dengan Tere? Mungkin saja, dia meminta balas budi.
Tere benci ini, ia sangat
benci dengan ‘hutang budi’. Mengingat hidupnya pun terjebak karna alasan itu.
Tak berapa lama kenop pintu terbuka, menampilkan seorang cowok tinggi dengan
wajah tampan. Dia membawa sebuket bunga mawar putih. Dia manis, dengan seragam
sekolah yang entah kenapa tetap membuatnya terlihat modis.
“Hai Re,” sapanya lembut
kemudian duduk ditepi ranjang setelah menaruh bunga mawar tadi diatas nakas.
Tere tak bergeming, ia
hanya menatap Sam sekilas lalu berpaling. Tak ada sedikit pun niat untuk
membalas sapaannya, bahkan tersenyum pun tidak.
“Hei, kamu kenapa? Sakit
apa?” tanya Sam lembut sambil mengusap kening Tere.
“Gak papa,” jawab Tere
sekenanya.
“Kamu kenapa gak angkat
telponku? Chat aku juga gak dibales?” tanya Sam masih dengan nada yang
lembut.
“HP gue dipinjem temen,”
“Cewek atau cowok?” tanya
Sam posesive.
“Kalaupun cowok, itu bukan
urusan loe!” ketus Tere.
Sam memutar bola mata
malas, selalu saja seperti ini. “Ck, kamu kenapa sih? Harus berapa kali aku
bilangin?! Kalo kamu tuh jangan berinteraksi sama cowok lain selain aku”. Kali
ini nada bica Sam cukup tinggi.
“Loe bukan siapa-siapa
gue,” balas Tere sengit.
Sam menyeringai.
“Terserah! Sekeras apapun kamu nolak aku, kamu tetep gak akan bisa lepas dari
aku,” ujar Sam santai tak peduli dengan penolakan Tere.
Tere mendelik tak suka.
“Gue akan buktiin kalo gue bisa lepas dari loe! Samuel Arkana Sebastian,” kata
Tere percaya diri.
Sam tersenyum kecut, baru
saja mulutnya terbuka untuk membalas ucapan Tere, sapaan seseorang tiba-tiba mengalihkan
perhatiannya.
“Hai sayang, aku bawa...” Farel
yang baru sampai diambang pintu mendadak berhenti.
Tatapan Farel bertemu
dengan iris hitam pekat milik Sam. Hanya begitu saja, nyalinya sudah ciut.
Lagipula, siapa yang tak kenal dengan Samuel Arkana Sebastian; seorang pemegang
sabuk hitam karate, dia juga masuk kedalam jajaran anak sekolah hits yang
populer dikalangan pelajar. Sam juga dikenal sebagai cowok bandeul yang
seringkali berkelahi dengan anak sekolah lain. Tapi, meski begitu, dia tetap
disukai banyak cewek. Terlepas dari semua itu, Tere justru merasa sebaliknya.
Dia merasa muak pada Sam karna sifat posesive-nya. Fakta bahwa Sam
tinggal dan sekolah di Jakarta sedikit melegakan bagi Tere. karna jika sampai
mereka sekolah ditempat yang sama, sudah dipastikan Tere akan mengangkat
bendera putihnya.
“Siapa loe?!!” tanya Sam
sinis.
“G...gue temennya Tere,”
dusta Farel membuat Tere mendelik kemudian mendengus.
“Temen?” kata Sam ragu
seraya mengangkat sebelah alisnya. Ia lalu menghampri Farel dan menarik kerah
bajunya, untuk dibawa keluar kamar.
Tere dan Sam bertemu saat
ia kelas tiga SMP. Saat itu, ayahnya memperkenalkan Sam yang merupakan
keponakan dari CEO perusahaan tempat ayahnya bekerja. Jabatan ayahnya naik
setelah menyetujui perjodohan sepihak antara Sam dan Tere. Awalnya, ia sendiri
memang merasa tertarik pada Sam. Tapi ketika mengenalnya lebih jauh, perasaan
itu pun menjadi berbanding terbalik.
Tapi, keluarganya menuntut
Tere untuk bisa menerima perjodohan ini. Secara tidak langsung ayahnya menjual
Tere pada Sam dengan alasan ‘hutang budi’. Miris bukan?
~o0o~
Pulang sekolah kali ini
Angga ada janji temu disalah satu butik langganan keluarganya. Namun yang
membuat pertemuan ini berbeda adalah karna untuk pertama kalinya dalam dua
tahun, Angga akan kembali menemui dia. Belahan jiwanya yang lain. Suatu moment
yang langka. Namun Angga tak berharap banyak, mengingat hubungannya dengan
dia sudah lama renggang.
Dia yang dimaksud adalah
‘Sam’, sodara kembarnya. Ya, Angga mempunyai sodara kembar, tapi tidak identik.
Rencananya mereka akan bertemu untuk feeting baju yang akan dipakai
dipernikahan ayahnya.
Dua bersaudara itu sangat
kompak pada masanya. Sam sang kakak memang sudah punya sikap bossy dan
brandal sedari kecil, sementara Angga dikenal dengan kekaleman dan
kejeniusannya. Hanya saja persamaan mereka; sama-sama punya tatapan
mengintimidasi dan juga kasar? Sam kasar urusan fisik, kalau Angga kasar dalam
bicara. Akan tetapi kalau sudah mencintai, tak ada yang bisa mengalahkan
kelembutan mereka berdua. Meskipun begitu, mereka tetap saling melengkapi. Sam
yang memang sering bertengkar dengan Angga dari kecil setidaknya masih mengakui
Angga sebagai adiknya. Tapi itu dulu, dan tidak untuk sekarang. Jujur, Angga
lebih suka melihat Sam yang memukulnya atau bersikap bossy padanya.
Daripada melihat Sam yang berubah dingin dan bersikap seolah tak mengenalnya.
Tentunya, peristiwa masa
lalu membawa mereka pada perang dingin seperti ini. Dan sampai kapankah? Angga
juga tak tahu.
Tante Livi sendiri hanya
menggelengkan kepala melihat keponakannya yang sudah hampir dua tahun tinggal bersamanya itu. Ya,
sebenarnya yang paling dominan dalam pertengkaran ini adalah Sam. Lelaki itu
menyimpan amarah yang tak kunjung lenyap pada adik satu-satunya ini.
“Yaudah, tante masuk dulu
yah,” ujar tante Livi setelah mengusap pipi Angga.
Angga sendiri hanya
membalas tante Livi dengan senyuman lalu menyusul Sam untuk duduk dipojok sofa
yang lain. Sam tak begitu peduli, dan lebih memilih memperhatikan ponselnya.
Namun, raut wajahnya tampak berubah muram. Sepertinya suasana hatinya kurang
baik.
Tak berapa lama dari itu,
Angga rasakan jika handphone yang ada disakunya bergetar, menampilkan
chat dari ‘Samsudin’.
Jawab gue! Siapa loe?! Gue
tau ini bukan Teressa!
Sorry kalo loe ada urusan sama Tere, HP nya emang lagi ada digue. Mungkin
besok baru gue balikin. Tadi dia gak masuk sekolah soalnya.
Gue tanya, siapa loe?!!
Bukan urusan loe! Gue bilang, kalo loe ada perlu besok aja
Gue peringatin sama loe,
kalo gue itu cowoknya Tere! Jadi jangan pernah sekali-kali loe berpikir buat
deket apalagi pacaran sama dia!!
Angga terkekeh pelan
membacanya. Samsudin? Mungkinkah dia adalah fans berat Tere? Sepertinya
lelaki ini cukup mengganggu Tere, mengingat bagaimana ekspresi Tere yang
berubah lesu saat menyebut namanya.
O ya? Tapi gue gak yakin kalo loe cowoknya
Cari mati loe anj**g!!
Kenapa harus marah? Takut gue ambil cewek loe?
Kalo memang dia sayang, loe gak perlu takutkan
Bacot loe!!
“Aarrgghhh,” Sam menggeram
kesal lalu melempar ponselnya kesembarang arah.
Angga langsung terlonjak
kaget. Ia sempat bertanya-tanya, gerangan apa yang membuat emosi Sam meluap
seperti itu? Tapi seberapa peduli pun Angga, takkan berarti apa-apa bagi Sam.
Menghiraukan keterkejutan Angga, Sam lebih memilih pergi keruang ganti kala
namanya dipanggil oleh salah satu staff.
~o0o~
Tere kembali kepadang
rumput itu ‘lagi’. Kali ini, Tere nampak tak begitu senang. Karna ia tahu,
siapa yang akan ia temui. Benar saja, Airis sudah menunggunya ditempat kemarin.
Senyum ramah yang mempesona selalu menghiasi wajahnya. Tere jadi sedikit iri
dengan senyumannya.
“To the point, apa yang loe mau dari
gue?” tanya Tere dengan wajah sedikit ketus.
Airis kembali tersenyum,
nampak tak risih dengan sikap Tere. “Sini, duduk dulu,” titah Airis lembut
seraya menarik tangan Tere untuk duduk disebelahnya.
“Aku minta maaf deh, aku
tau kamu kaget sama perubahan mendadak ini,”
“Maksudnya apa sih loe
bikin gue jadi indigo?” ungkap Tere sambil mendelik tak suka. “Kenapa loe
ngelakuin itu? Supaya gue bisa liat loe? Supaya loe dengan bebas minta apapun
kegue? Loe pikir gue mau dapet donor jantung dari loe?! Kalo loe emang gak
ikhlas tolongin gue waktu itu, kenapa loe gak biarin gue mati aja, lagipula gue
gak mau ngabisin hidup gue cuma buat balas budi,” racau Tere panjang lebar
meluapkan kekesalannya.
Airis terhenyak beberapa
saat,” maafin aku Re, mungkin aku emang udah ngusik kamu terlalu dalam. Tapi
Re, saat aku donorin jantung aku, itu murni karna aku pengen tolongin kamu.
Saat itu, aku cuma pengen jadi orang yang berguna disaat-saat terakhirku,”
ungkap Airis dengan sorot mata berkaca-kaca.
Tere terenyuh menatap bola
mata dengan iris coklat milik Airis. Ia kemudian menarik nafas panjang sebelum
kembali bicara, “jadi sekarang apa yang loe mau?” tanya Tere dengan berat hati.
Saat ini, dia memang tak punya pilihan.
Airis menatap hamparan
padang rumput itu dengan pandangan menerawang. “Kamu ingeut kan, aku pernah
bilang kalo aku belum bisa pergi dengan tenang. Itu karna ada orang yang belum
bisa relain kepergian aku,” tutur Airis dan Tere hanya mengangguk. “Bantu aku,
buat dia lupain aku,” pinta Airis dengan sorot mata penuh harap pada Tere.
“Siapa?” tanya Tere
sedikit penasaran.
Airis kembali mengalihkan
pandangannya kehamparan padang rumput yang luas. “Angga,” jawab Airis dengan
tatapan kosong.
Jantung Tere berhenti
berdetak! Ia harap kalau sekarang ia sedang salah dengar. Sudah cukup Tere
berurusan dengan Angga, ia tak mau lagi memperpanjang. Cowok itu benar-benar
sulit didekati. Tere tak mau membuang waktunya untuk hal yang tidak penting
seperti ini.
“Gue gak mau, dia
nyebelin,” tolak Tere tegas.
Airis kembali menatap
Tere. “Tapi Re, kamu udah suka sama dia dari awal. Hanya saja kamu gengsi untuk
mengakuinya”.
Tere mendengus, maksudnya
cinta pada pandangan pertama? Yang benar saja.
“Gue gak suka sama dia.
Kalo jantung loe mungkin iya,” ujar Tere menyeringai.
“Re, seberapa kali pun
kamu menghindar. Takdir akan terus mempertemukan kamu dengan dia. Kamu gak
harus deketin Angga, kamu cukup redam ego kamu, dan ikutin perasaan kamu,” kata
Airis penuh kelembutan.
Cewek itu selalu
menampilkan sisi dewasanya, itu membuat Tere tak yakin jika ia dan Airis
seumuran.
“Ingeut Re, redam ego kamu
dan ikuti perasaan kamu,” kata Airis lagi.
‘Redam ego kamu, dan ikuti
perasaan kamu’ kata-kata terakhir Airis itu mendadak terngiang-ngiang
ditelinganya. Ini konyol! Apa harus Tere kembali terjebak dalam keegoisan
takdir. Jadi jangan salahkan Tere jika dia menjadi orang yang egois. Karna
takdir pun juga bersikap sama padanya.
Komentar
Posting Komentar