ANTHEA - 02

 

02. Selalu Dengannya

 “Seperti dua kutub magnet yang berpisah, kita seolah saling tarik menarik”

--Teressa Aulia—

 

Tatapan Angga terpaku lurus pada sebuah objek yang terlihat mungil jika dilihat dari lantai dua. Cewek yang menggerai rambut panjangnya itu terlihat kelelahan karna terus bercucuran keringat. Tere terus menggaruk tengkuknya yang terasa basah dan lengket. Sudah dua jam Tere berjemur dibawah mentari terik ini. Dan ketika dia pulang, sudah bisa dipastikan dia akan langsung memulai ritual skincare-nya.

Tere berdecak kesal. Lalu tak sengaja matanya menangkap kehadiran seseorang yang membuatnya jadi daging panggang seperti ini. Mata mereka bertemu. Tere menatap nyalang Angga yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Angga tak berpaling, ia balik menatap Tere dengan pandangan penuh arti.

Dada Tere bergemuruh menahan bom waktu yang hendak meledak. Ia kemudian membuang wajahnya kasar, memperlihatkan amarahnya dengan jelas. Gertakan Tere tersebut sama sekali tak berpengaruh apapun pada Angga. Tingkahnya itu justru malah membuat Angga merasa gemas.

“Hey! Ngapain loe? Tumben senyum-senyum sendiri”. Tepukan tangan Zio pada punggungnya berhasil mengalihkan perhatian lelaki itu.

“Eh, gue kira siapa,” Angga sedikit terkejut.

“Hayo ngaku! Loe lagi mikirin siapa? kok sampe ngelamun gitu?” goda Zio dengan senyum menjengkelkan.

“Apaan sih! Gaje loe,” ketus Angga merasa risih.

“Ceilah, dasar so cool,” ledek Zio dan hanya ditanggapi dengan wajah datar. Zio kemudian mengikuti arah pandang Angga. “Wah, ternyata jago juga loe bisa bikin dia nurut,” kata Zio kagum seolah baru saja melihat keajaiban dunia.

“Emangnya kenapa?” Angga bertanya dengan dahi berkerut merasa heran.

“Yaiyalah, si Stella aja sampe kewalahan ngadepin tuh cewek. Soalnya dia keras kepala banget, kalo dihukum nih pasti dia gak akan mau dan malah bolos atau kemana gitu. Tapi dia cantik sih, dari awal masuk udah diincer banyak cowok, anak-anak basket juga pada kompak ngomongin dia. Tapi, ya karna dia keras kepala banget jadi pada gak tahan deket-deket sama dia,” Zio menjelaskan.

“Sampe segitunya. Kalo emang bermasalah terus kenapa gak dipanggil ke BK aja?” tanya Angga yang masih heran.

Zio mengedikkan bahu. “Mana gue tau, kan loe ketua OSIS nya Bambang,” Zio kemudian menoyor kepala Angga tidak sopan, dan langsung dihadiahi tatapan horor menyeramkan. Zio sendiri hanya bisa nyengir seraya membentuk lambang peace oleh dua jarinya. “Jangan marah dong bosku, selow ae,” katanya lagi. “Eh iya, HP loe kenapa? Kok gue telpon tadi gak aktif?” Zio berusaha mengalihkan pembicaraan.

Angga terdiam, otaknya seolah baru saja mengingat sesuatu. Angga lupa, kalau HP-nya sekarang ada pada Tere. Dia menatap Zio sekilas, kemudian pergi tanpa sepatah kata pun.

“Ye... gue tanya malah pergi,” protes Zio pada punggung Angga yang perlahan menjauhinya.

 

~o0o~

 

Stella menghentakkan kaki kesal, ia tak dapat membendung emosinya. Untuk yang kesekian kali, ia diacuhkan oleh Angga. Cowok kalem dan misterius itu tak pernah sekalipun memberikan kesempatan Stella untuk masuk kekehidupannya, apalagi ruang hatinya.

“Gue harus kayak gimana lagi coba?! Bahkan ketika gue sakit pun dia tetep gak peduli sama gue!” rengek Stella kesal.

Sonya hanya menatap iba pada sahabatnya itu. Sikap Stella ini sama sekali tak mengherankan baginya. Cewek itu bahkan menghalalkan segala cara demi secuil perhatian dari Angga. Ya, Stella pura-pura sakit agar bisa menghabiskan waktu bersama Angga. Namun usahanya nihil, cowok itu hanya menemuinya lima menit untuk memberikan obat, dan mengucapkan ‘semoga cepat sembuh’ kemudian pergi.

“Ck mau gimana lagi, loe kayak gak tau aja wateknya si Angga,” Sonya memutar bola mata malas. Ia mulai merasa bosan dengan drama Stella.

“Yaudah gue cabut dulu yah, dan loe tetep disini. Siapa tau dia tiba-tiba dateng. Kalo ketahuan cuma pura-pura sakit kan berabe,” kata Sonya kemudian pergi meninggalkan UKS.

Stella membuang nafas kasar, merasa jengkel dengan keadaannya sekarang. Tak berapa lama, HP-nya berdering, menampilkan ID caller Khanza.

“Halo, ada apa Zha?”.

“Stel, loe harus liat ini,” suara Khanza terdengar seperti ingin berteriak namun dia menahannya.

“Ck liat apa sih?” Stella berdecak kesal, karna Khanza menggantung ucapannya.

“Angga berduaan sama cewek,”

“Apa?!!!”

~o0o~

 

Akhirnya, setelah sekian jam Tere bisa duduk dan beristirahat. Ia menepi dan duduk di tribun lapangan. Sebelah tangan Tere mengangkat rambutnya kebelakang, sementara  tangan yang satunya lagi ia kibas-kibaskan pada leher. Berharap itu bisa membantu meredakan rasa gerahnya.

Tere juga merasa heran dengan dirinya sekarang ini. Kenapa ia begitu mudah menuruti perintah Angga? Padahal selama ini ia dikenal paling membangkang jika dihukum. Entahlah, yang jelas sekarang ia berharap untuk tak berurusan dengan cowok itu lagi.

Tapi sepertinya, Tere belum bisa terlepas dari Angga. Dia lihat Angga tiba-tiba ada didepan matanya sambil menyodorkan sebotol minuman dingin. Ada apa ini? Apakah cowok ini adalah seorang aktor? Mengapa mudah sekali baginya untuk berubah sikap.

“Gue minta maaf,” Angga duduk satu tingkat dibawah Tere, agar tinggi mereka sejajar.

Tere terpaku. Dia masih tak percaya ini. Namun, tangannya reflek mengambil sebotol minuman itu. Ya, dahaganya tak dapat ia dustai.

Hening beberapa saat. Hanya ada suara Tere yang tengah menenggak air itu seperti orang kesurupan.

“Sesuai dengan apa yang loe mau. Gue udah minta maaf setulus-tulusnya,” jeda Angga. “Jadi sekarang, balikin HP gue,” ujarnya santai sambil mengulurkan tangan.

Deg!

“Uhuk! Uhuk!” Tere tersedak, tenggorokannya terasa perih sekarang. Seluruh sendinya seakan terlepas. Apa yang harus ia katakan pada Angga?

“Loe gak papa?” tanya Angga terlihat khawatir.

Tere hanya menganggukan kepala, meyakinkan Angga kalau dia baik-baik saja. Tere lalu kembali menormalkan nafasnya. Otaknya yang karatan itu, dipaksa untuk berpikir keras. Tere  Kemudian menarik nafas panjang,  berpaling dan menatap Angga dengan cengiran. Angga hanya diam sambil mengangkat alis bertanya – tanya.

“Sebenernya HP loe itu... euh... euh...” Tere menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Angga masih setia mendengarkan. “Gak sengaja gue lempar dan rusak,” lanjutnya sambil takut-takut.

“Apa loe bilang?!” pekik Angga sedikit berteriak.

“Gue janji kok bakal ganti,” Tere buru-buru menyela demi menghindari kemarahan Angga selanjutnya.

Kini giliran Angga yang berusaha menormalkan nafasnya. Cewek ini benar-benar menguras emosinya. Ia tak habis pikir dengan setiap tindakan Tere.

“Loe punya dendam apa sih sama gue?” ujar Angga dingin.

“G_gue minta maaf. Tadi tuh bener-bener gak sengaja,” Tere berusaha menjelaskan dengan raut wajah merasa bersalah. “Yaudah kalo gitu, gimana kalo untuk sementara, loe pake dulu HP gue. Nanti kalo gue udah punya duit gue ganti”. Tere menyerahkan HP miliknya pada genggaman Angga.

Angga terdiam beberapa saat. “Gue gak mau,” katanya sambil mengembalikan benda persegi tersebut. Namun, Tere menahannya. Kedua tangannya menggenggam tangan Angga erat.

“Gue tau, ini emang gak sebagus HP loe. Tapi gue mohon loe terima yah. jangan bikin gue ngerasa gak enak dong,” pinta Tere dengan sorot matanya.

Angga terpaku menatap iris mata berwarna coklat milik Tere. Ada hal aneh yang ia rasakan. Sedetik kemudian, Angga membalikkan posisi tangannya dengan balik menggenggam tangan Tere.

“Gue juga tau, loe juga pasti butuh banget sama HP loe kan, jadi loe gak perlu ngelakuin ini,” tutur Angga dengan nada melunak.

Tunggu! Ada apa ini? Kenapa Angga bisa bicara selembut itu? Angga menemukan sisi lain dari dirinya ketika berhadapan dengan Tere. Sisi lain yang selama ini sudah lama terkubur dalam lukanya.

“Gak mau tau! Pokoknya terima!” keukeuh Tere tak menerima penolakan. Baru saja Angga hanyut dalam sorot mata gadis ini, namun sifat asli Tere berhasil menghancurkannya.

Siapa sangka interaksi mereka barusan dilihat oleh Khanza dan Kamila yang berdiri dikejauhan. Sungguh dalam pengamatan dua cewek rempong itu, Angga dan Tere terlihat dekat bak sepasang kekasih yang tengah pacaran. 

 

~o0o~

Selepas istirahat pertama, akan ada acara pertunjukan basket. Tentu saja Tere akan datang. Tetapi sebelum itu ia sadari kalau penampilannya sekarang sangat berantakan. Ia lekas pergi kekamar mandi dan kembali memoles wajahnya dengan make-up yang tadi luntur.

Tak berselang lama. Tepat ketika ia tengah mengoleskan lipbalm pada bibir tipisnya, datang dua orang yang mengapitnya dari kanan dan kiri. Tere terkejut, ia lantas menatap mereka berdua. Dia Kamila dan Khanza. Dan saat Tere membalikkan badan, ada Stella yang tengah menatapnya dengan sinis.

“Gak puas loe cari gara - gara sama gue?!” desis Stella tak kalah sinis.

Dengan kasar, Stella menarik kepala Tere mendekat. Khanza dan Kamila pun langsung sigap menahan pergelangan tangan Tere yang siap memberontak.

“Denger! Loe boleh aja dapetin perhatian semua cowok, tapi jangan pernah loe berpikir kalo loe bisa dapetin perhatian Angga. Karna dia, punya gue,” Stella memberi peringatan tegas tepat ditelinga Tere.

Batin Tere mendengus. Jadi masalahnya karna cowok itu? ‘Angga siketua OSIS’. Padahal baru tadi pagi ia mengenalnya. Perkenalan itu pun hanya meninggalkan kesan yang buruk bagi Tere.

Stella lalu menghempaskan kepala Tere begitu saja. Ia kemudian menatap Khanza dan Kamila penuh arti, lalu melenggang pergi.

 

~o0o~

 

“Darimana aja loe?” tanya Zio pada Angga yang baru saja memasuki toilet sambil menenteng paver bag.

“Kepo loe,” sahut Angga menghampiri Zio yang berdiri didepan watstapel.

“Serah loe deh. Tapi awas yah kalo sampe loe telat!” Zio memperingati Angga dengan tatapan tajam, namun tak terlihat menakutkan jika Zio yang melakukannya.

Angga menanggapinya dengan datar. Kalau saja Zio tidak dianugrahi sifat cuek ataupun kesabaran, mungkin dia sudah memaki wajah lempeng Angga yang minta ditabok itu.

Toilet mendadak sepi ketika Zio pergi. Tanpa membuang waktu lagi, Angga segera mengganti bajunya dengan seragam basket yang tadi ia bawa. Untuk sementara semua tampak normal, sampai ketika samar-samar Angga mendengar sesuatu. Ia menajamkan indera pendengarannya baik-baik. Suara rintihan seorang wanita terdengar jelas dikehingan. Namun, Angga lebih memilih acuh, mungkin ia salah dengar.

Akan tetapi, tubuhnya berkhianat. Selepas selesai merapihkan penampilannya, Angga bergegas pergi menghampiri asal suara yang terdengar dari arah toilet wanita. Perlahan suara itu memang terdengar semakin jelas, membuat Angga juga penasaran dan ingin segera melihat apa yang terjadi. Dan tepat ketika ia membuka pintu, nampak Tere yang sudah tersungkur dilantai dengan alat make-up-nya yang berserakan. Ada luka lebam didahinya. Tapi sepertinya, ada hal lain yang membuat Tere merasa kesakitan. Bukan luka lebam itu, tapi dadanya. Tere memegangi dadanya erat dengan nafas tersengal-sengal. Sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak.

Tanpa persetujuan, Angga langsung menggendong Tere. Entahlah, tiba-tiba rasa khawatir menyeruak begitu saja tanpa bisa ia jelaskan. Angga menyusuri koridor yang nampak sepi karna semua orang pasti sudah berkumpul dilapangan basket. Entah kenapa disaat-saat seperti ini, UKS terasa lebih jauh.

Lagi, ia berhadapan dengan Tere. Sejak pertemuan pertama mereka, Angga seolah tertarik dengan sendirinya untuk selalu terlibat dengan Tere. Angga jarang berinteraksi dengan wanita, namun kali ini keadaan seolah memaksanya untuk selalu berurusan dengan cewek bernama ‘Teressa’.

Angga dibuat terkejut mendapati Tere yang sudah tak sadarkan diri ketika ia menidurkannya diranjang UKS. Dia panik dan gelagapan. Angga lalu mengecek denyut nadi Tere dan nafasnya. Lemah. Semua hal ini membuat Angga frustasi. Otak cemerlangnya mendadak berhenti berfungsi.

Angga kemudian melakukan CPR, ia melepas dua kancing atas baju Tere kemudian menekan dadanya. Dan tanpa berpikir panjang, ia mengangkat dagu Tere, membuat kepala gadis itu mendongak agar ia bisa memberikan nafas buatan. Beberapa menit kemudian, ia rasakan ada pergerakan. Dada Tere mulai naik menandakan kalau nafasnya sudah berangsur normal. Angga lalu melepas tangan yang tadi mengapit hidung Tere, deru nafasnya langsung menyapu pipi lelaki itu. Tere sudah siuman, Angga kemudian menjauhkan wajahnya.

“Loe gak papa?” tanya Angga dengan tatapan mata intens. Ada rasa khawatir terselip dikalimatnya.

Tere terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya...

“Aaaa!! Loe apain gue?!” teriak Tere kesal, kemudian bangkit dan mendorong Angga lemah.

Emosi Angga mulai tersulut, “loe gak tau terima kasih yah. Gue tuh baru aja nolongin loe!!” bentak Angga tak terima.

“Tetep aja! Loe baru ngelecehin gue kan,” ujar Tere dengan wajah memerah sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

Angga mengusap wajah kasar. Pelecehan? Kalau begitu, dokter yang melakukan pertolongan pertama seperti Angga tadi berarti juga melakukan pelecehan? Angga tak yakin jika sekarang ia berhadapan dengan orang waras. Dan dia pun juga sangat menyesali tindakannya yang menyelamatkan gadis rese ini.

“Serah loe deh. Lagian gue juga gak nafsu sama cewek dibawah umur kayak loe!” Angga terlihat jengkel.

Tere mengatupkan rahangnya, menahan gejolak yang bergemuruh didalam rongga dadanya. Ia hendak berdiri untuk kemudian membombardir Angga dengan pukulannya. Tapi sayang, lututnya terluka dan membuat tubuhnya hampir jatuh karna tak seimbang. Untung saja, ada Angga yang reflek menahan bahu Tere. Ya, tubuh Angga tak bisa diajak bekerja sama. Otak dan tindakannya selalu tidak sinkron.

“Loe tuh sakit tapi kok banyak tingkah,” kata Angga kesal kemudian mendudukkan Tere pada ranjang UKS.

Angga lalu mengobrak-abrik kotak P3K mencari obat merah dan plester. “Tunggu bentar!” kata Angga lantas pergi keluar untuk membeli obat merah dan plester yang tak ia temukan di UKS.

Tere terdiam menatap kepergian Angga. Ia mengingat kembali kejadian yang membuatnya jadi seperti ini. Ini semua berawal dari ‘Angga’. Masalah memang tak asing bagi Tere. Tapi entah kenapa kehadiran Angga seakan memperkeruh hidupnya yang sudah ruweut ini.

Dengan langkah tergesa Angga kembali menuju UKS. Tak mau buang waktu, ia segera mengobati luka Tere. Lutut Angga menyentuh lantai agar memuduhkannya untuk membersihkan luka Tere untuk kemudian ia oleskan obat merah dan menempelkan perban.

“Kenapa loe mau nolongin gue?” tanya Tere pelan.

Angga terdiam beberapa saat. “Jadi loe gak mau gue tolongin”.

“Bukan gitu, maksudnya euh... makasih,” lirih Tere seraya menunduk.

Angga berdehem tak mau menanggapi ucapan Tere barusan. “Lagian loe tadi kenapa sih, serangan jantung?”

Tere hanya diam membisu.

Angga menghela nafas kemudian bangkit, “yaudah, loe istirahat aja disini gak usah kemana-mana,” tutur Angga seperti induk ayam pada anaknya.

Tere mengangguk, ia jadi tak banyak bicara.

“Kalo gitu gue cabut dulu yah, gue ada urusan,” Angga yang kemudian melangkah menuju pintu.

Tere baru menyadari kalau Angga adalah anggota tim basket yang harusnya melakukan pertunjukkan hari ini. Pasti sekarang dia terlambat datang karna tadi menolongnya. Ia merasa sangat bersalah sekarang.

“Kenapa?” tanya Tere pada Angga yang terlihat kesusahan membuka pintu.

“Pintunya susah dibuka, kayaknya kita kekunci deh,” jawab Angga.

“Apa?!!”

 

 

Komentar