ANTHEA - 01

 01.Terintimidasi

 

“Iris hitam itu menghanyutkan, senyuman tipis itu menenangkan, aku terpana akan setiap perhatian, semua tersirat dalam degupan, hanya saja egoku terlalu tajam”

 

- Teressa Aulia –

 

 

Teressa Aulia menarik nafas pelan kala melihat mobil Farel yang perlahan menghilang dari pandangannya. Tatapannya sendu, menyiratkan kecemasan mendalam. Kemudian ia berbalik badan sambil berjalan gontai menyusuri trotoar yang sebagian tergenang air hujan semalam. Pikirannya melayang memikirkan kejadian beberapa waktu lalu. Rasa khawatir itu pun kembali menyeruak dalam hatinya. Farel, cowok yang baru beberapa hari jadi pacarnya. Dia mengkhawatirkannya. Ia takut nasibnya sama seperti Zidan. Mantannya.

Untuk mengalihkan segala keruwetan tersebut, Tere lebih memilh mendengarkan lagu balad lewat earphone-nya. Lagu dari Louis Amstrong berjudul What a Wonderfull World mengiringi perjalanan Tere. Ditambah dengan udara pagi dan bau embun basah khas kota Bogor membuat pikirannya terasa tenang. Namun, tepat dari arah belakang sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menyerempet Tere_yang karna keasyikan mendengarkan lagu membuat langkahnya melenceng dari jalur.

Motor itu berhenti beberapa langkah didepan Tere. Dan tanpa ba-bi-bu lagi ia menghampiri si pengendara sialan itu. Tere marah dan kesal, ia sempat mengumpat sebentar lalu mencabut paksa earphone yang melekat pada daun telinganya.

“Heh! Loe itu kalo bawa motor yang bener dong! Gak liat apa, tadi ada kembarannya Jenni Blackpink lagi jalan,” bentak Tere dengan suara cetar membahana.

Cowok itu lalu membuka helm fullface-nya. Hal itu sukses membuat Tere diam tak berkedip. Aneh, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Wajah tenang pria ini dengan sorot mata teduhnya berhasil menghipnotis Tere didetik itu juga. Dan alam seolah punya cara, angin bertiup menggerakkan daun dan bunga melati yang mekar serta surai tipis pria itu dan tentunya rambut panjang Tere.

What the fuck!!

Jangan bilang kalau dia terpesona. Ayolah! Tere tak boleh gentar hanya karna paras rupawan pria ini. Terlepas setampan apapun dia, Tere harus tetap menjaga harga dirinya yang tadi sudah kepalang marah. Aih, gadis itu kan memang punya gengsi setinggi langit.

“Siapa suruh jalan disana! Itukan bukan tempat pejalan kaki!” sahutnya kalem namun penuh penekanan.

Tere menelan ludahnya dengan susah payah, “iya gue tau, tapi loe juga salah. Kenapa tadi bawa motor pake ngebut-ngebut segala. Kan itu namanya membahayakan pejalan kaki!” balas Tere sengit tak mau kalah.

“Loe bego yah! Kan gue ngebutnya dijalanan. Kalo gue ngebut ditrotoar baru namanya membahayakan pejalan kaki. Dan loe!” cowok itu mengarahkan telunjuknya tepat diwajah Tere, “berhak marahin gue,” lanjutnya sedikit emosi.

Tere sempat terpaku beberapa saat, “gak mau tau!! Pokoknya loe tetep salah, titik!” dikte Tere egois.

Cowok itu menyeringai kemudian tersenyum tipis. “Dasar cewe,” katanya sambil memalingkan wajah malas.

Drrtt... Drrttt...

Terdengar suara handphone bergetar dari saku cowok itu. Menyadarinya, dia pun mengangkat sebuah panggilan masuk tersebut.

“Halo”

“....”

“Bentar lagi nyampe kok, emang ada apa?”

“....”

“Dimana?”

“....”

“Oh... ok ok, yaudah bye”. Cowok itu pun memutus panggilannya.

Lagi-lagi Tere menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa kalau ia salah bertindak kali ini. Bukannya apa-apa, Tere bisa merasakan dengan jelas aura dingin dari cowok ini yang mengintimidasinya. Tapi kan tanggung, Tere sudah terlanjur kepalang malu. Dan pada akhirnya dia leih memilih egonya yang segede dosa itu.

“E-eh mau kemana loe?!” tanya Tere melihat cowok itu yang kembali memakai helmnya.

“Bukan urusan loe!” jawab laki-laki itu dengan nada suara yang masih sama.

Sumpah! Selama dari tadi Tere nyerocos panjang lebar, cowok itu malah membalasnya dengan nada suara yang datar dan cukup menekan. Cuek tapi tidak jutek, beku tapi tidak dingin. Inilah yang membuat Tere jadi greget setengah mati.

“Eh, loe jangan gitu dong! Loe kan belum minta maaf sama gue, main pergi seenaknya aja,” gerutu Tere tidak jelas.

Cowok itu menarik nafas perlahan. Lalu beralih menatap Tere lekat-lekat, “MAAF!!” kata-katanya yang penuh penekanan dan terdengar tak ikhlas.

Entah kenapa Tere semakin kesal mendengarkan kalimat yang begitu dipaksakan dari cowok yang entah siapa namanya ini. Dan entah keberanian darimana pula, tanpa berpikir dua kali, ia menyita HP yang baru saja akan cowok itu masukkan kesakunya. Semuanya terjadi begitu saja, dan Tere tak paham dengan gerak tubuhnya sendiri. Karna mau dilihat dari sudut pandang manapun, ini adalah hal terkonyol yang pernah ia lakukan seumur hidup. Menyita ponsel lelaki yang tak dikenal sama sekali? Benar-benar sesuatu yang bodoh.

“HP loe gue sita. Kalo loe mau HP loe balik, loe harus minta maaf dengan sesungguh-sungguhnya sama gue. Bahkan kalo perlu pake matrai sekalian!” tegas Tere berapi-api.

Cowok itu hanya tersenyum miring, lalu menghela nafas perlahan, “segitu butuhnya ya loe sama maaf gue?” kata cowok itu sarkastis.

Wajah Tere berubah merah menahan amarah. Sementara cowok itu dengan santainya melajukan motor kearah berlawanan. Ya, tindakan Tere barusan sepertinya tak berpengaruh apa-apa padanya. Tere benci ini, ia benci kekalahan. Ia tahu, cowok itu satu sekolah dengannya karna dilihat dari baju seragamanya. Dan sudah bisa dipastikan jika cowok itu adalah seniornya. Kalau sudah begini pasti akan ada lagi masalah yang menghampiri. Tere mendengus, ia ingin marah tapi pada siapa? Pada lelaki tadi ataukah pada dirinya sendiri?

Dengan rahang mengeras dan gigi yang bergemeletuk, Tere memandang nanar punggung cowok itu. Ia kemudian menghentak-hentakkan kakinya untuk meluapkan segala kekesalannya. Dan tanpa dia sadari...

Geprak!!

Handphone yang ia genggam terlempar ketengah jalan. Untung tidak sampai kenapa-kenapa. Namun, baru selangkah Tere ingin mengambil HP itu, tiba-tiba sebuah truk datang tepat didepan wajahnya. Cewek itu terkejut dan mematung ditempat menyadari apa yang terjadi kala truk itu sudah hilang dari pandangannya. Tere menutup mulutnya sendiri dengan tangan saking terkejutnya. Ia lekas pergi ketengah jalan dan memungut handphone yang sudah tak berbentuk itu.

Tere terpaku beberapa saat. Ini diluar kendalinya. Terlebih lagi itu kan HP orang. Gimana kalo dia disuruh ganti? Uang jajan anak SMA kan gak seberapa. Mana sekarang tahun ajaran baru lagi, pasti banyak pengeluarankan? Secepat inikah masalah itu datang? Rasanya Tere belum siap berhadapan dengan tamu yang tak sengaja ia undang ‘masalah’.

 

~o0o~

 

Baru selangkah kaki Tere memasuki gerbang sekolah, ia sudah dihadang oleh dua orang seniornya yang tak lain dan tak bukan adalah Khanza dan Kamila. Mereka berdua adalah anggota OSIS bagian ketertiban dan keamanan. Khanza dan Kamila sebenarnya dikenal cukup galak dan sangar. Namun, sepertinya itu tak berlaku pada Tere. Seperti biasa, Tere selalu bersikeras dan seenaknya sendiri, melanggar aturan seolah sudah menjadi kebiasaannya. Karna prinsip hidup Tere, jika dia tidak mau maka tak ada yang bisa memaksanya untuk mau. Jika Tere tidak suka maka tak ada yang bisa memaksanya untuk suka. Begitulah Tere, hidup dengan aturannya sendiri.

“Et-et main nyelonong aja ni anak. Loe pikir ini sekolahan punya bapak loe apa?!” Khanza menahan Tere yang hendak memasuki gerbang.

“Iya nih, gak sopan banget sih loe. Gak liat apa ada kita?!” Kamila menimpali.

“Aduh sorry, mata gue mendadak rabun kalo liat kalian,” celetuk Tere tanpa dosa.

“Dih! Ni anak songong yah, loe pikir loe siapa?!” emosi Khanza dengan nada suara meninggi.

“Tau nih, makin hari makin ngelunjak yah! sadar posisi dong!” Kamila yang bersikap tak jauh berbeda dengan Khanza.

Tere nampak biasa saja. Tak ada sedikit pun ketakutan dari raut mukanya, “kalian pasti dah capek kan ceramahin gue. Gue tau kalian euneug! Karna gue pun juga euneug dengernya. Jadi sekarang, mending to the point aja. Kalian maunya apa? Panas tau!” kata Tere sedikit kesal.

Khanza dan Kamila saling memandang penuh arti.

“Khusus untuk kali ini bukan kita yang bakal ngehukum loe,” Khanza yang sengaja menggantung kata-katanya. “Loe temuin ketua OSIS dan minta hukuman loe sama dia,” lanjut Khanza dengan senyuman miringnya.

“Duh ribet bangeut deh, gue males ah berurusan sama sipengharum ruangan itu,” tolak Tere begitu saja.

“Kalo loe gak mau. Berarti guru BK yang bakal ngehukum loe!” Ancam Kamila merasa puas. Ya, jurus itu biasanya cukup manjur untuk membuat Tere menurut.

Tere sudah muak masuk ruang BK sejak SMP. Kalau diawal masa SMA-nya ini dia sudah berurusan dengan hal-hal seperti itu, sudah dipastikan bahwa dia tak akan mendapat jatah uang jajan seumur hidupnya.

Lantas ia tak punya pilihan selain pergi menuju ruang OSIS yang nampak sepi kala dia memasukinya. Jelas itu membuat Tere merasa gusar. Apa baru saja dia dipermainkan? Tere diam beberapa saat, mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.

Tak berapa lama ia dengar suara kenop pintu yang dibuka, menampilkan sosok yang tak begitu asing baginya. Dia, cowok itu?! Dia cowok yang tadi pagi Tere marahi habis-habisan. Wow! Takdir begitu hebat. Dia bertemu dengan cowok menyebalkan ini. Dunia terasa sempit untuknya mulai sekarang.

Kenapa Tere begitu tidak menyukai cowok ini? Entahlah, ia hanya risih dengan tatapan cowok itu yang selalu mengintimidasinya. Mengapa demikian? Tere juga tidak tau, ia hanya mengikuti egonya. Ya, kehidupan Tere hanya berporos pada egonya saja.

“Siapa loe? Kok loe disini?” tanya Tere terkejut.

“Harusnya gue yang tanya, loe siapa? kenapa disini?” cowok itu balik bertanya.

“Gue Teressa, murid baru,” jawab Tere. Perasaannya mulai tidak enak.

Cowok itu mendekat, mengikis jarak dengan Tere. Sial! Tere tak dapat mengendalikan degup jantungnya yang kian berisik.

“Gue Angga, ketua OSIS sekolah ini”.

 

~o0o~

 

Sudah empat hari Angga tak masuk sekolah. Meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ketua OSIS. Tugas terbengkalai itu pun terpaksa ia serahkan pada wakilnya yang juga teman sekelasnya. Stella. Namun, tepat dihari pertama ia sekolah setelah sekian lama berlibur, ia mendapat kabar kurang mengenakkan. Stella sakit, maagh-nya kambuh. Itu membuat Angga putar arah untuk membeli obat maagh dan juga makanan.

Siapa Angga?

Dia adalah most wanted SMU Gemilang. Tak ayal, karna kepintaran otaknya, juga paras wajahnya ia menjadi salah satu murid populer disini. Meskipun begitu, dia bukanlah orang yang senang dengan popularitas. Justru Angga cenderung tertutup dan sulit membuka diri pada orang lain.

Dia misterius.

Hanya kesimpulan itu yang orang-orang dapatkan ketika pertama kali mengenal Angga. Ya, tak mudah untuk bisa masuk ke kehidupannya, apalagi hatinya. Angga seolah menutup semua akses bagi siapa pun yang ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi dia juga tidak sombong, dia tetap ramah dan bergaul dengan siapapun. Hanya saja, sedikit orang yang mampu bertahan untuk berteman dengannya. Karna apa? Angga terlampau misterius.

Dan disinilah ia sekarang. Kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang ketua OSIS. Ya, Angga kembali duduk disinggasananya, menatap adik kelasnya dengan tatapan mengintimidasi. Selama Angga pergi, dia memang mendengar banyak laporan dan keluhan mengenai salah satu siswa MOS yang bermasalah.

Dan cewek yang jadi sumber masalah itu adalah Tere. Angga mendengus, memutar bola mata malas. Tak heran, karna baru tadi pagi ia terlibat masalah dengan Tere.

“Jadi bisa loe jelasin, alasan loe melakukan pelanggaran hampir setiap hari kayak gini?” Angga menunjuk buku catatan yang berisi laporan pelanggaran yang Tere lakukan. Mulai dari terlambat, bolos, memakai make-up dan tidak memakai atribut yang diwajibkan.

Tere menarik nafas panjang. Entah kenapa, hanya berhadapan dengan Angga mampu membuat dirinya didera rasa gugup.

“Gue cuma heran. Aneh aja, masa orientasi siswa itu kan harusnya diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Lebih tepatnya, gue mewakili semua murid baru harusnya disambut dengan baik dan dibikin betah. Kalian sebagai senior, harusnya mencerminkan seorang kakak kelas yang bisa membimbing adek kelasnya,” tutur Tere memberi pendapat selogis mungkin.

“Tapi itu gak bisa dijadiin alesan buat loe ngelanggar semua aturan ini,” tandas Angga menampik alasan Tere.

“Gue cuma gak terima dan gak suka dengan cara kalian yang semena-mena. Jangan karna senior kalian punya hak buat ngelakuin apa pun dengan seenaknya!” bentak Tere sengit.

“Kalo loe gak suka, kenapa loe sekolah disini?! Kenapa gak pindah aja? dan cari sekolah sesuai dengan yang loe mau,” perkataan Angga barusan berhasil membungkam Tere. “Sekolah ini juga gak akan rugi hanya karna kehilangan satu murid bermasalah kayak loe!” lanjutnya tegas.

Tere kalah!!

Dan ia benar-benar mengutuk sosok cowok berwajah malaikat namun bermulut bak cabe rawit. Tere hanyalah remaja labil, dia hanya sedang mempertahankan pendapatnya. Tidakkah ada yang bisa melihat ketidak adilan disini? Apa hanya Tere yang merasakannya?

“Iiihhh loe tuh kok nyebelin banget sih, kalo emang loe mau ngehukum gue hukum aja, gak usah ngomong ngebentak gitu,” ucap Tere dengan suara bergetar. Penglihatannya kabur karna air mata yang menggenang.

Angga dibuat bisu. Apa dia memang berbicara sekasar itu? Tapi bukankah Tere yang memulai perdebatan ini. Jangan salahkan Angga jika dia bicara ketus, Tere sendiri yang menantangnya. Aih! Angga benar-benar merasa bersalah, padahal dia berada dipihak yang benar. Mungkin ini pun jadi salah satu alasan Angga malas dekat-dekat dengan makhluk bernama ‘cewek’.

“Loe nangis?” tanya Angga seolah matanya buta karna tak bisa melihat mata Tere yang berkaca-kaca.

“Enggak!!” elak Tere kesal. Namun jelas sorot matanya menampilkan hal yang berbeda.

“Bohong,” kata Angga lagi

Angga ini hanya bingung. Entah dia bego atau kurang peka, karna tak menyadari kalau cewek yang ada didepannya ini memang sedang menahan air matanya.

“Gue bilang enggak ya enggak!!” Tere akhirnya berteriak.

Tere sadar jika dia memang kekanak-kanakan. Tapi ini memang diluar kendalinya. Entah kenapa setiap perkataan Angga mampu membuatnya bungkam. Tere benci kekalahan, ia paling tidak suka didebat balik. Dan tindakannya melawan Angga adalah sebuah kesalahan besar. Karna akibatnya ia berakhir dilapangan dengan tangan terlipat hormat pada tiang bendera.

Tere benci ini, ia benci terpapar sinar matahari.

Komentar